ITS News

Minggu, 14 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Weny Findiastuti Tertarik Pikirkan Industri Kecil Madura

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Weny Findiastuti nama mahasiswi ini. Ia begitu terpanggil untuk mengembangkan potensi yang ada Madura, terutama yang terkait dengan industri kecil. Atas dasar itulah maka ia mengambil tesis berjudul: "Penentuan Prioritas Pengembangan Industri Kecil Menengah di Kab. Bangkalan dengan Pendekatan Analytic Newtork Process".

"Saya memang benar-benar tertarik untuk memikirkan potensi industri kecil di Bangkalan. Ini terkait dengan akan segera diraelisasikannya Jembatan Suramadu dalam waktu dekat. Keberadaan Suramadu itu harus bisa dirasakan oleh masyarakat Bangkalan, dan salah satu alternatifnya adalah bagaimana industri kecil di sana bisa hidup," katanya.

Melalui pijakan ilmiah berupa tesis inilah Weny mewujudkan sumbangan pemikirannya tentang industri kecil apa yang ke depan dapat berkembang dengan baik di bangkalan. "Saya mencoba melihat berbagai potensi kecil yang ada di Bangkalan, dari sekitar 9 jenis industri kecil yang ada, saya melihat industri kecil batik dan pembuatan jamu, potensial untuk dikembangkan," katanya.

Analisanya pun tak tanggung-tanggung, ada 18 item yang digunakan untuk menganalisa kenapa industri batik dan jamu yang potensial untuk dikembangkan di Bangkalan. "Analisa ini memang bukan sembarangan, saya mencoba mengambil kesimpulan dengan menggunakan analisis proses network, dimana proses pemilihan didasarkan pada kriteria-kriteria yang telah ditentukan, namun dengan memperhatikan pula ketergantungan atau dependensi antar krtieria itu sendiri. Kedelapan belas kriteria itu diantaranya menyangkut akses informasi, keuangan, pemasaran, produksi, serta sumber daya manusia," katanya.

Dikatakan alumni Teknik Industri ITS tahun 2002 yang sebelumnya pernah bekerja di Batam ini, berkait dengan masih kurangnya orang-orang yang mencoba memikirkan persoalan industri kecil di Madura. "Kini sebagian orang memang telah mencoba memikirkan industralisasi di Madura setelah nanti Jembatan Suramadu terealisasi, tapi itu sebagian besar bicara soal industri-industri besar yang mendatangkan juga modal besar. Bagaimana dengan potensi industri kecilnya, belum ada yang mencoba mencarikan jalan keluar. Saya berharap melalui tesis saya ini akan memberikan jalan keluar pengembangan industri kecil di sana," katanya.

Alasan lain kenapa Weny berusaha mencarikan jalan keluar untuk industri kecil di Madura, itu karena ia kini tercatat sebagai dosen di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Trunojoyo, Bangkalan. "Kenapa saya harus mengambil persoalan yang jauh-jauh, akan lebih baik dan bermanfaat kalau saya mencoba memperhatikan lingkungan dimana saya bekerja," kata Weny yang mengambil program S2-nya dengan biaya sendiri.

Salah satu bagian kesimpulan yang direkomendasikan Weny, yang berhasil meraih nilai A dari tesisnya yang diujikan Senin (2/8) siang itu, berkait dengan bahan baku dari industri batik Madura. "Persoalan bahan baku menjadi penting mengingat selama ini para pengrajin batik mendapatkannya dari luar Madura. Ke depan akan lebih ideal lagi jika kebutuhan bahan baku itu bisa dipenuhi dari Madura sendiri. Persoalannya, jika orientasi industrialisasi di Madura mengarah ke clean industry, maka sudah dapat dipastikan sulit diperoleh di Madura. Tapi jika memang Jembatan Suramadu sudah teralisir persoalan itu tidak lagi menjadi kendala," katanya.

Menurutnya, dari hasil survei yang dilakukan berkait dengan penyusunan tesis itu, para pengrajin batik di Bangkalan, yang tersebar di lima wilayah, masing-masing Tanjung Bumi, Modung, Blegah, Socah dan Kokop, sudah mempunyai akses pasar yang baik. "Bukan hanya itu sector perbankan pun sudah yang siap untuk membiayai. Kini tingal kesediaan para pengrajin didalam usaha meningkatkan produksinya," katanya. (bch)

Berita Terkait