ITS News

Minggu, 02 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Vivien : "Budaya Ilmiah Kita Kurang!&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Vivien Suphandani Djanali, tiga kata ini terangkai untuk menyebut cewek kelahiran Madison USA, 21 tahun silam. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMU Negeri 5 Surabaya tahun 1999, putri pasangan Ir. Supeno Djanali, M.Sc.,Ph.D. dan Ir. Handayani Tjandrasa, M.Sc.,Ph.D. ini melanjutkan studi di ITS, seolah tak ingin jauh dari kedua orang tuanya yang mengajar di sana. Dipilihnya jurusan Teknik Mesin sebagai tempat studi.

Menurut Vivien, proses seleksi mahasiswa berprestasi utama (mawapres) tahun 2001 lebih ketat dari sebelumnya. Tes yang harus dilalui seorang mawapres pun banyak, mulai dari wawancara, presentasi makalah, psikotest, bahasa Inggris, dan tak kalah pentingnya adalah standar IP.

Cewek berkulit kuning langsat ini lebih banyak bercerita tentang jurusannya ketika diwawancarai. "Saya memang ingin masuk Mesin ITS dari dulu," paparnya. "Bahkan saya juga tahu kalau pengkaderan di sini keras, lama sebelum saya masuk," tambahnya. Soal pengkaderan, ia sepakat kalau organisasi kemahasiswaan membentuk calon anggotanya dengan cara keras, tapi bukan berarti berlaku kasar. "Melakukan bentrok fisik misalnya," ia mencontohkan seperti apa definisi kasar itu.

Putri Pembantu Rektor I ini juga mengkritik kurangnya budaya ilmiah mahasiswa ITS, Teknik Mesin khususnya. "Kalau di Elektro dan Statistika sudah mengadakan pelatihan LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah, red.), sampai sekarang kita belum," kritiknya. Sekedar catatan, cewek berkaca mata ini juga pernah memenangkan LKTI tahun 2001. Saat itu ia mengetengahkan tentang kejelasan standarisasi PTN dan PTS.

Soal akademik, alumnus SMPN 6 Surabaya ini berencana menyelesaikan studinya dalam jangka waktu empat tahun. Di semester tujuh ini, ia akan melayangkan proposal tugas akhir (TA) dan dilanjutkan dengan mengambil TA pada semester berikutnya. Ditanya soal ke mana setelah lulus, seraya tersenyum ia menjawab belum punya gambaran soal itu. "Mungkin enak sih, kalau cewek seperti saya jadi dosen, tapi lihat-lihat nantilah," tutup mahasiswi ber-IPK 3.82 ini. (tov/bch)

Berita Terkait