ITS News

Jumat, 27 Januari 2023
15 Maret 2005, 12:03

UGM MASUK, ITS GAGAL LAGI?

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Lagi-lagi ITS gagal masuk 70 best asia univesrsities versi Asia Week 2002 yang diumumkan Juni lalu di Hongkong kantor pusatnya. Universitas yang berhasil masuk yang berasal dari Indonesia hanya ITB dan UGM, ITB masih "nangkring" di papan tengah kualifikasi engineering and science universities sedangkan UGM berada di urutan buncit 63 kualifikasi multi disciplinary universities. Padahal yang kita ketahui bahwa keduanya merupakan PTN tua dan top di Indonesia. Rangking kedua institusi top tersebut masih kalah dengan NTU Singapura ataupun UTM Malaysia apalagi dibandingkan dengan India. India menempatkan lebih 5 universitas atau institut teknologi di versi Technology and sciece universities di papan atasnya.

Bagaimana dengan nasib ITS sendiri yang pada tahun 2000 lalu gagal masuk tahun ini pun namanya tak nongol? Sebagai institusi kebanggaan masyarakat Jatim ITS harus berbenah diri untuk jangka waktu yang lama kedepannya. Dibandingkan dengan UGM atau ITB memang ITS tergolong masih muda sehingga banyak pengamat yang mengatakan ITS belum mampu bersaing.

"Asia Week juga tidak jelas dalam melakukan penilaian" ujar Ir. Daniel M. Rosyid ,Ph.D PR IV ITS ketika dimintai keterangan soal kegagalan ITS tahun ini. Daniel mengatakan bahwa dirinya pernah menyurati Asia Week tetapi tidak pernah dibalas. Seperti yang kita ketahui penilaian Asia Week ternyata berdasarkan pada jumlah hasil riset yang berhasil masuk ke jurnal ilmiah internasional, jumlah rasio pengajar bergelar doktor dengan mahasiswa, rasio mahasiswa pasca dan S1, infrastruktur yang ada serta prestasi.

Ada beberapa penyebab gagalnya ITS masuk ke jajaran PT top Asia padahal sebenarnya ITS jauh lebih baik daripada UNAIR yang tahun 2000 lalu masuk. "Kita sebenarnya jauh lebih layak ketimbang UNAIR," ujar Daniel yang mantan aktivis HMI tersebut. Menurut ia salah satu penyebab kegagalan adalah minimnya jumlah riset yang masuk ke level internasional yang akarnya yaitu pada salah policy dalam hal pembiayaan riset.

"Program pasca kita telat dari ITB 30 tahun lalu dan tidak menarik," tukasnya dengan lantang. Penyebab utama tidak ada hasil riset adalah ketidak jelasan rencana riset untuk para doktor yang menarik minat mahasiswa pasca S2 ataupun S3. Para doktor yang baru pulang ke ITS seharusnya sudah punya rencana untuk melakukan penelitian dengan kerjasama industri. Kerjasama industri akan mengalirkan dana ke dosen dan laboratorium yang bersangkutan untuk melakukan risetnya, dengan catatan bahwa riset yang dilakukan benar-benar menarik bagi industri. Adanya aliran dana ynag cukup besar akan meningkatkan level riset yang berkelas internasional dan hasil akan diterima di jurnal internasional.

"Adanya riset doktor yang menarik juga akan menarik minat pasca," sebut Daniel yang jabatannya akan habis tahun ini. Sebenarnya adanya gambaran diatas akan mengatasi masalah klasik soal dana yang menurutnya bukan masalah pokok dalam menyikapi mimimnya riset.

Dia memberikan contoh kasus bahwa jika ada riset yang menarik minat industri akan terjadi kucuran dana. Dari kucuran dana tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan alat lab, gaji para mahasiswa S1 atau S3 yang ikut riset doktor tersebut. Bahkan ada dana kompensasi untuk jurusan dan jika berhasil maka ada royalti untuk dosen yang bersangkutan. Maka riset yang selama ini dibiayai oleh dana SPP mahasiswa tidak akan membebani lagi SPP.

Selama ini kebanyakan PTN jarang melakukan hal itu justru melakukan program ekstensi yang menyita waktu para dosen untuk hanya monoton mengajar dan tidak riset, istilahnya kejar "setoran". Ironisnya hal itu terjadi di jurusan-jurusan besar di ITS seperti T.Elektro atau Mesin. Jadi tidaklah salah jika para doktor yang pulang ke Indonesia akan beranggapan bahwa PTN-PTN kita bagaikan kuburan massal para doktor muda.

Nah, berhubung pihak birokrat ITS sendiri sudah tahu kelemahan yang ada termasuk kejelekan program ekstensi mengapa kok buka ? ITB tidak pernah ada ekstensi mungkin bisa ditiru ITS, mengapa sungkan ?(blh/sa)

Berita Terkait