ITS News

Sabtu, 26 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

TRILOGI BERANTAS KORUPSI

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Raihlah kesempatan selagi ada" semboyan yang cukup baik untuk memotivasi kita agar lebih maju. Tetapi akan berubah maknanya bila disisipi satu kata "korupsi". Penyelewengan semboyan itulah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga akhirnya menjadi suatu kebudayaan yang benar-benar melekat dalam jiwa bangsa kita.Hingga detik ini ratusan bahkan ribuan orang masih setia menjunjung budaya tersebut.

Itulah ungkapan yang disampaikan oleh Prof.Dr.Amien Rais, mengawali Studium General Sidang Umum IKA-ITS ke-43, sedikit banyak dia memberikan gambaran nyata dari tindakan-tindakan korupsi sebagai makanan setiap hari. Fakta dapat ditunjukkan dari data suatu badan statistik Indonesia, korupsi negara ini menduduki peringkat ke-6 dimuka bumi dan peringkat ke-3 se-Asia Pasifik. Sebegitu parahnya tingkat korupsi sampai menjadi jalan hidup bangsa Indonesia."Mudah-mudahan Indonesia belum jadi Cultural DNA," ujarnya Ketua MPR RI ini.

Lebih lanjut, tambahnya, ada beberapa jenis korupsi yang paling hangat untuk jadi bahan diskusi yaitu korupsi distortif, terjadi dilingkungan Eksekutif dan Legislatif, korupsi ekstortif, yang mudah mendapatkan sesuatu dengan jalan memeras.Tetapi jenis korupsi sufersif dianggap sangat riskan karena menyangkut fundamental bangsa ini.

"Karena menurut pendapat mereka, sesungguhnya para koruptor masih bisa mengabdi kepada negara asal uang korupsi dibelanjakan di negara ini, meskipun korupsi jalan terus, tidak bakalan habis karena negeri ini kaya raya,"tutur ketua umum PAN ini

"Mengapa masalah korupsi yang sudah sering diseminarkan itu masih tetap tak ada perubahan yang signifikan?" demikian pertanyaan yang dilontarkan Amin kepada forum.Menurut analisanya, hal itu dapat terjadi antara pelaku korupsi dengan aparat anti korupsinya sama saja bila ditinjau secara mendalam. Aparat yang mestinya memberantas korupsi,ternyata juga pihak yang harus dibersihkan. Jadi muncul istilah sesama koruptor tidak boleh saling melempar.

Lalu bagimana langkah pencegahannya, Amien Rais menyebutkan ada 3 cara yang dikelompokkan dalam trilogi pemberantasan korupsi. Isi trilogi itu,yakni rekonstruksi pimpinan nasional,pembangunan sistem yang transparan dan rekonstruksi mental bangsa yang harus berjalan selaras dan seimbang. "Jangan hanya sering ganti pimpinan tetapi tidak diikuti perubahan sistem serta mental bangsa karena ketiganya berhubungan erat," terang Amin.

Pembahasan ketiga trilogi tersebut lebih mendalam manakala sesi diskusi dibuka. Diawali dari pertanyaan dari seorang peserta yang memisalkan problema diatas seperti daun yang jatuh dari pohon setiap hari."Jadi apa tidak sebaiknya langsung cabut akarnya saja?" usulnya. Amien pun membenarkan pernyataan itu.Dia menjelaskan kalau bangsa Indonesia seharusnya berpikir radikal. Karena rezim selama ini belum menunjukkan komitmennya.

Sementara itu pendapat lain muncul dari,alumni Fipia, Bambang, yang ingin membuktikan secara matematis jika korupsi itu tidak bisa berkurang."Korupsi bagaikan mode cyclic, kadang ada diatas,saat lain dibawah," katanya.

Namun, Amien kurang setuju dengan pendapat itu karena menurutnya ada negara yang musnah karena korup, contohnya Yugoslavia,Uni Soviet. Kemudian menanggapi komentar peserta lainnya,Husni tentang kecurangan beberapa aparatur negara mulai dari polsek sampai dinas kesehatan yang sering membebankan biaya lebih kepada masyarakat, Amin menjawab dengan santainya kalau urusan-urusan seperti itu memang ruwet.

Terkait dengan masalah diatas, Amien kembali menegaskan kepada segenap Alumni ITS untuk bersama-sama memberantas korupsi meskipun jalan yang ditempuh sangat terjal."You can if you think you can," pepatah yang dilontarkan Amien disampaikan diakhri pembicaraannya.(d1ti/rom)

Berita Terkait