ITS News

Kamis, 07 Juli 2022
15 Maret 2005, 12:03

Tim ITS Maritime Challenge menjual mimpi?

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Menjual mimpi? Banyak yang mengomentari demikian ketika ide mengikuti event Atlantic Challenge dilontarkan. Namun ketika tim ITS Maritime Challenge benar-benar berangkat ke Amerika tidak banyak yang berkomentar, banyak orang hanya terperanjat tidak percaya, bahkan ketika tim tersebut memboyong penghargaan Spirit of Atlantic. Apa yang membuat mereka bisa mewujudkan mimpi mereka disaat orang lain mengatakan tidak mungkin?

Bermula ketika Anjar Ciptandini, Mangoloi Sialagan, Helmi Amrullah, Hadi Suwarno, M Syariful Anam dan Muhammad Habibie mengadakan Kerja Praktek (KP) di Kapal Kayu Nusantara (Kakanoo). Mereka diajari banyak tentang kapal kayu, dan banyak ilmu yang tidak mereka pelajari dalam bangku kuliah mereka dapatkan dari KP tersebut. Karenanya mereka bertekad ingin membangun kapal kayu selepas KP, "Masak arek kapal (mahasiswa Teknik Perkapalan, red) tidak bisa membuat kapal !" tekad mereka. .Maka diajukanlah proposal kepada Daniel M Rosyid (Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan). Ternyata di luar dugaan, pak Daniel menyambut gembira semangat keenam mahasiswa Teknik Perkapalan tersebut. Bahkan kemudian, pak Daniel menawarkan, yang kata banyak orang adalah mimpi, membuat kapal Yole De Bantry dan mengikuti lomba Atlantic Challenge 2002 di Amerika.

Langsung mereka terima tawaran pak Daniel tersebut, karena awalnya tujuan utama tawaran tersebut adalah membuat kapal kayu Yole De Bantry, dan itu sesuai dengan tekad mereka. Dengan bermodalkan semangat, mereka memulai membangun mimpi-mimpi mereka di tengah rapuhnya kepercayaan akan keberhasilan. Maka dibukalah open rekruitmen untuk mendapatkan anggota tim dalam membuat Yole De Bantry. Mereka mencoba merangkul mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), karena sesuai kesepakatan dengan pihak rektorat, mereka akan melibatkan ketiga jurusan (Teknik Perkapalan, Teknik Sistem Perkapalan dan Teknik Kelautan) dalam FTK dan Politeknik (Poltek) Perkapalan.

Dalam pamflet yang dibuat, mereka mencoba menarik perhatian mahasiswa lain dengan iming-iming mengikuti event ke Amerika. Namun hal itu justru membuat ragu mahasiswa yang membaca pamflet tersebut. Maka tak heran jika kemudian tidak banyak mahasiswa yang mendaftar untuk menjadi anggota tim. Dengan waktu yang demikian pendek, mereka melakukan serangkaian test untuk mendapatkan anggota tim yang baru. Dalam waktu yang telah ditetapkan, akhirnya tersaringlah 14 mahasiswa yang tersebar di FTK dan Poltek Perkapalan.

Bulan Nopember mereka mulai mengerjakan kapal Yole De Bantry. Karena keterbatasan pengetahuan dari mahasiswa tersebut, maka pak Daniel mencoba menghadirkan salah satu koleganya dari Prancis untuk mengawasi secara langsung proses pembuatan Yole De Bantry tersebut. Mike, demikian anggota tim memanggil akrab supervisor tersebut. Selain Mike, salah seorang pegawai PT PAL juga dihadirkan untuk mensukseskan jalannya pembuatan Yole De Bantry tersebut.

Tidak sedikit perselisihan yang muncul diantara mereka, bahkan hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Umpatan tidak lagi menjadi sesuatu yang aneh untuk didengar, mereka bahkan mendengarnya setiap hari. Namun, secepat umpatan tersebut diucapkan, mereka pun dengan cepat melupakan semua kesalahan dan kekesalan. Jika waktu istirahat diantara anggota tim nampak suasana keakraban dan harapan akan membangun mimpi bersama-sama. (bersambung)(IwY/lin)

Berita Terkait