ITS News

Sabtu, 11 Juli 2020
15 Maret 2005, 12:03

Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan Untuk Kedaulatan Indonesia

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Institut Teknologi Sepuluh Nopember sebagai Perguruan Tinggi yang bidang geraknya menitikberatkan pada pengembangan teknologi kelautan bekerjasama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan, membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengembangkan semua potensi kelautan Indonesia.

Seminar nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan, Rabu (15/10), yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS membahas serangkaian kenyataan yang dihadapi oleh praktisi Kelautan Indonesia. Bertujuan untuk mendukung pembangunan kelautan dan perikanan, seminar nasional ini menampilkan dua keynote speaker Dr Ir Indiyono Susilo, M.Sc.Apu ( DKP-RI ) dan Ir Fahmi Sadiq,MBA (PT Surveyor Indonesia).

Kekayaan sumber daya laut Indonesia selama ini masih menjadi harta karun yang tidak tergali. Bangsa yang mengaku memiliki nenek moyang pelaut ini tidak sadar seberapa besar kekayaan laut yang tidak dimanfaatkan, tersia-siakan bahkan dicuri oleh pihak luar. ITS mencoba untuk mengumpulkan berbagai praktisi, lembaga, organisasi, dan intelektual Indonesia di bidang kelautan, untuk saling tukar informasi, ide, dan pemikiran melalui serangkaian seminar. Diharapkan dari ajang ini dapat dihasilkan penemuan baru berupa teori inovatif dan aplikatif untuk mendukung pembangunan Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Potensi laut Indonesia berasal beberapa sektor antara lain perikanan (US$ 31.935.651.400 ton/tahun , wilayah pesisir dan pulau kecil (US$ 56.000.000.000 total), wisata bahari(US$ 2.000.000.000/tahun ) dan minyak amp; gas bumi (US$ 6.643.000.000 /tahun ). Tentunya kekayaan yang menggiurkan ini menarik perhatian sejumlah pihak untuk memanfaatkannya secara legal maupun tidak. Pemanfaatan sumberdaya laut secara tidak sah ini yang menjadi titik berat permasalahan Indonesia. Pencurian potensi perikanan Indonesia tahun 2002 kemarin mencapai US$ 2 milyar. Potensi minyak dan gas bumi pun mengalami masalah penyelundupan. Belum lagi masalah seperti pencemaran laut, perompakan laut, imigran gelap, dan dana operasional yang kurang.

Untuk mengendalikan penggunaan sumber daya yang tidak sah ini diperlukan sistem kontrol yang ketat dari pemerintah. Di sinilah diperlukan peran universitas dan lembaga penelitian, bahu membahu dengan pemerintah, menjadi bagian dari penciptaan teknologi kelautan yang aplikatif di Indonesia. "Departemen Kelautan dan Perikanan melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya laut secara sah, dan berusaha menekan eksploitasi kekayaan yang ilegal," terang Indiyono, pembicara pertama dari DKP-RI.

Beberapa upaya telah dilakukan antara lain melakukan regristasi kapal ikan dan wilayah operasinya. Cara pengendalian yang ditempuh adalah dengan pemasangan transmitter ARGOS di kapal ikan kayu, sehingga dapat dilacak posisi kapal tersebut. Bila tidak sesuai dengan wilayah operasi sesuai daftar maka kapal akan dikenai sanksi hukum. Tujuan yang ingin dicapai adalah menekan jumlah kapal ikan ilegal yang beroperasi di wilayah RI. "Tentunya untuk menegakkan sanksi hukum terhadap kapal ilegal tersebut diperlukan tindakan tegas dari praktisi hukum Indonesia," terang Indiyono.

Beberapa teknologi baru juga sedang dikembangkan dan dicoba pengaplikasiannya seperti pemantauan wilayah laut Indonesia melalui radar satelit, pembangunan stasiun bumi satelit NOAA milik BRKP-DKP akademi perikanan di Bitung, Sulut, pengkajian stok ikan di wilayah Indonesia, dan masih banyak upaya lainnya yang membutuhkan peran ilmuwan dan peneliti bidang Kelautan Indonesia. (Lin/li)

Berita Terkait