ITS News

Minggu, 27 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

TEKANKAN DISIPLIN, HILANGKAN REFLEKSI ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Mengawali hari kedua Sidang Umum Majelis Ikatan Alumni ITS 2004 yang diadakan di Shangri-La hotel hari Sabtu (10/1), beberapa anggota majelis mempermasalahkan pencalonan ketua baru IKA ITS periode 2004-2007. Pasalnya, sampai acara sidang dimulai pada jam 9, hanya 1 orang yang menyerahkan berkas pencalonannya sebagai ketua baru, sehingga berdasarkan keputusan sidang komisi B maka hanya ada calon tunggal pada suksesi kali ini.

Melihat kenyataan tersebut beberapa anggota majelis menolak. Banyak diantaranya menginginkan agar pimpinan majelis berkenan untuk memberikan kesempatan kepada calon yang belum menyerahkan berkas pencalonannya.

"Berdasarkan hasil sidang komisi B tentang tata tertib pemilihan ketua umum, maka seharusnya memang hanya akan ada calon tunggal. Karena keputusan sidang menyatakan bahwa calon ketua sudah harus menyerahkan berkas pencalonannya paling lambat tanggal 10 Januari 2004 jam 08.00 dengan disertai 21 tanda tangan anggota majelis yang mencalonkannya. Dan sampai jam 08.10 kami hanya menerima 1 berkas, yaitu dari Pak Kristiono," ujar Ir. Karina, anggota komisi B yang juga alumni T. Sipil.

Menyikapi hal tersebut, dewan pimpinan majelis, yang diketuai oleh Prof Ir Soegiono, memberikan kesempatan kepada anggota majelis, baik yang pro maupun kontra atas keputusan sidang komisi B, untuk mengungkapkan pendapatnya dalam sidang. "Kalau hanya ada calon tunggal itu artinya kita tidak memberikan kesempatan kepada yang lain. Untuk itu, saya mohon kepada pimpinan majelis untuk memberikan waktu kepada calon yang belum menyerahkan berkasnya," ujar Adi Kresna Mukti, anggota majelis utusan komisariat Jabotabek.

Hal senada disampaikan oleh Khoirul Djaelani. "Demi tegaknya demokrasi dan kebersamaan dalam IKA ITS, apa salahnya memberi kesempatan kepada yang lain," kata anggota majelis wakil dari utusan bidang.

Pendapat yang berbeda dilontarkan oleh Prasetyo. Menurutnya, apapun yang terjadi, anggota majelis seharusnya menghormati dan menghargai hasil keputusan sidang komisi B. "Lalu apa gunanya komisi B bersidang sampai jam setengah dua malam, kalau buntut-buntutnya keputusan yang dihasilkan tidak dihargai sama sekali, dengan alasan demokrasi dan kebersamman," ungkap Prasetyo.

Dewan pimpinan majelis terpaksa menskors sidang selama 10 menit untuk membahas masalah tersebut. Hasilnya adalah dewan pimpinan majelis menerima penyerahan berkas calon ketua baru yang menyusul. "Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalau semuanya bisa disiplin. Dan memang inilah refleksi ITS yang sampai saat ini masih terus dibawa, yaitu tidak disiplin. Kalaupun pimpinan majelis memutuskan untuk menerima lagi, ya semoga itu yang terbaik. Kami dari komisi B tidak bisa campur tangan karena semua keputusan ada ditangan pimpinan majelis. Tapi satu harapan saya, bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi pada sidang yang akan datang," tutur Karina.

Hingga batas waktu yang diberikan oleh dewan pimpinan majelis, tercatat ada dua calon yang mengajukan diri untuk menjadi ketua IKA ITS periode 2003-2007. Mereka adalah Ir. Kristiono dan Ir. M. Zainal Abidin Djalal, Msi.(sept/lin)

Berita Terkait