ITS News

Selasa, 28 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Teater kritik dunia pendidikan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Cerita dibuka dengan menampilkan narator yang membahas permasalahan yang muncul di sebagian besar wilayah Indonesia, anak jalanan. Dalam narasinya, ia mengatakan banyak yang mengetahui keberadaan dari anak jalanan tersebut, bahkan banyak pula yang menjadikannya sebagai bahan tulisan dan sejenisnya, akan tetapi sangat disayangkan sampai saat ini belum ada tindakan nyata untuk mencoba menanganinya.

Angga, adalah anak dari keluarga yang tidak mampu. Seperti anak jalanan yang lain, ia juga mengandalkan pendapatan dari jalanan untuk membantu orang tuanya. Karena hidup yang serba kekurangan itulah yang membuatnya sulit untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya sudah mangatakan bahwa ia tidak mampu membiayai biaya sekolah yang kian membumbung tinggi.

Dengan perasaan kesal ia meninggalkan orang tuanya untuk bermain bola. Setelah puas bermain bola, ia melihat patung Airlangga yang berdiri kokoh. Kemudian ia mencaci maki patung tersebut karena kenyataan sekarang sangat bertolak belakang dengan sejarah jaman Airlangga. Setelah itu ia mengencingi patung tersebut, dan terjadilah sesuatu yang luar biasa, ia dapat menembus sejarah.

Nampak di depannya pertarungan antara Dharmawangsa melawan Wurawari, dan dimenangkan oleh Wurawari. Akibatnya di kerajaan Medang terjadi kekosongan pemimpin. Maka terjadilah perebutan kekuasaan, yang akhirnya didapatkan Angga, seorang anak jalanan yang dapat menembus sejarah.

Seseorang yang harus menghadapi sebuah sejarah yang sama sekali berbeda dengan apa yang pernah ia baca, begitulah yang nampak dalam lakon Angga yang diperankan S Cahyo ini. Ia mencoba memberikan gambaran tentang masa depan kepada kaum cerdik pandainya, dan ia menyadari benar bahwa sangat berarti dan pentingnya pendidikan bagi rakyat dalam memajukan kerajaan.

Dengan menjadi raja kerajaan, Angga semakin sadar akan keberadaannya dulu sebagai anak jalanan begitu disia-siakan, dan sangat memprihatinkan. Karena itu ia mencoba untuk memperbaiki segalanya mulai dari apa yang ia dapat lakukan, dalam kepemimpinannya.

Setelah Angga dapat mengatasi permasalahannya di kerajaan, kemudian timbul lagi permasalahan, kali ini dari keluarga Angga. Emaknya merasa sangat kehilangan walaupun (mungkin) kesehariannya Emaknya kurang perhatian terhadap Angga. Berbeda dengan Bapaknya yang bersikap sangat acuh, bahkan ia tidak memperdulikan apakah anaknya bakal balik atau tidak.

Memang, jika ingin merubah sesuatu yang besar, memang nampaknya harus ada pengorbanan, bahkan mungkin bisa saja nyawa taruhannya. begitulah pesan yang ingin disampaikan.(yud/rom)

Berita Terkait