ITS News

Senin, 30 Januari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Tak Ada Badai di Surabaya

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

SURABAYA- Kemungkinan terjadi badai (thunderstorm) di Surabaya pada 11-13 Februari ini, ditepis pakar hidro oceanografi ITS Dr H Mahmud Mustain MSc. "Surabaya berada di daerah lintang (posisi suatu daerah dari garis tengah bumi) yang rendah, antara 1 sampai 5 derajat. Badai seperti itu kecil kemungkinan bisa sampai di sini," kata dosen Teknik Kelautan ini.

Badai, kata dia, ditimbulkan akibat pergerakan massa udara di darat dan massa air di laut. Agar terjadi badai, diperlukan energi yang besar.

Energi ini, lanjut alumnus Geofisika dan Meteorologi ITB itu, didapat dari perbedaan tekanan udara, yang menyebabkan angin kuat bertiup dari udara bertekanan tinggi ke udara bertekanan rendah. "Perbedaan tekanan tersebut baru bisa terjadi kalau terdapat perbedaan intensitas sinar matahari yang cukup ekstrim dari satu wilayah terhadap wilayah lain." paparnya.

"Nah, pada daerah lintang rendah seperti Surabaya ini, fluktuasi tekanan udara tidak besar, bila dibandingkan dengan daerah lintang tinggi di atas 15 derajat," lanjutnya.

Seperti diberitakan, badai kiriman dari Australia diperkirakan akan masuk ke Indonesia. Badai itu terjadi akibat siklon tropis Chris yang pada 6 Februari lalu menghantam hebat kawasan pantai timur Port Hedland, barat laut Australia Barat. Badai itu diperkirakan akan masuk ke Surabaya antara 11–13 Februari ini (baca JP 7/2).

Mahmud bisa memaklumi, mengapa badai itu terjadi di Australia. "Kawasan di sana termasuk memiliki lintang tinggi," kata doktor Seismik dari Leicester University, Inggris ini.

Kembali dia menegaskan, badai itu sangat kecil kemungkinannya bisa masuk ke Surabaya. "Karena, sisa badai dari Australia itu sudah dihabiskan di daerah pantai Selatan Jatim yang lebih dekat dengan Australia, dan bukannya di Surabaya yang berlokasi di pantai Utara," lanjut ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya ini.

Maksudnya, ketika uap air dari laut masuk ke pulau, maka uap air dipaksa naik dan jatuh menjadi hujan. Dijelaskan bapak tiga puteri ini, pada musim hujan tidak ada angin dari arah Australia, angin justru berasal dari Barat, Samudera Pasifik.
Kedua, putaran angin dalam skala besar juga jarang terjadi di daerah lintang rendah. Seperti diketahui, jelas dosen Mata Kuliah Lingkungan Laut, pembelokan angin (Coriolis) terjadi di Belahan Bumi Utara (BBU) dan Belahan Bumi Selatan (BBS) di dekat kutub. Di BBU dibelokkan ke kanan, dan di BBS ke kiri. "Pembelokan terjadi, karena bumi berputar ke arah Timur dan anginnya (udara) kalah cepat mengikuti, sehingga angin terkesan dibelokkan."

Pembelokan ini, menimbulkan angin pusar, mulai dari siklon, hurricane hingga yang paling dahsyat badai (thunderstorm) di daerah lintang tinggi. " Pada tingkatan badai, memang benar-benar dahsyat. "Asal tahu saja, badai satu jam membawa air setara 100 triliun liter air atau setara dengan jumlah hujan di Benua Amerika selama satu tahun." Sebaliknya, di lintang rendah atau tropis cuma menjadi tempat pertemuan angin dari BBU dan BBS, sehingga keduanya justru saling menetralisir. (frd)

Berita Terkait