ITS News

Kamis, 01 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

T. Lingkungan Inginkan Keseimbangan Dua Arah

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Dalam upaya peningkatan kualitas kurikulum pendidikan tinggi, tidak cukup jika hanya berdasarkan pada pendapat dari mahasiswa atau dosen saja. Namun juga diperlukan masukan-masukan dari alumni yang notabene pernah mengenyam materi di pendidikan tinggi. Bahkan tidak hanya itu, masukan-masukan dari masyarakat umum juga sangat diperlukan karena mereka juga merasakan hasil dari olahan kurikulum tersebut dalam bentuk tenaga kerja.

Untuk itu, dalam rangka evaluasi kurikulum pendidikan tinggi ITS mengharap kepada semua jurusan untuk mengadakan evaluasi terhadap kurikulum materi perkuliahan yang telah diberikan. Salah satunya adalah jurusan Teknik Lingkungan. "Kebetulan acaranya dilaksanakan hari ini (3/10). Jadi bertepatan dengan Lustrum IV Teknik Lingkungan. Padahal, sebenarnya acara ini tidak ada kaitannya dengan lustrum itu karena acara ini sudah menjadi agenda kami. Beda dengan yang di PDAM kemarin itu," tutur Dr. Yulinah T, MAppSc, ketua jurusan Teknik Lingkungan.

Dalam seminar yang dihadiri lebih dari 50 peserta itu sangat menekankan pada kurikulum baru yang kompeten khususnya bagi program S1. "Kurikulum di ITS ini setiap 5 tahun sekali dievaluasi. Dan sangat tidak mudah untuk mengadakan evaluasi semacam ini. Karena kita menginginkan adanya keseimbangan dua arah. Yang pertama yaitu dari pemakai kurikulum itu sendiri dalam hal ini mahasiswa dan dosen. Dan yang kedua tentunya pengguna tenaga kerja dari Teknik Lingkungan dalam hal ini adalah masyarakat, alumni dan pihak luar yang terkait," terang Dr Yulinah.

Untuk itu, selain mahasiswa, dosen dan alumni, panitia juga mengundang beberapa orang dari ITB dan perwakilan USAID. "Dalam lokakarya ini kita kerja sama dengan Perform Project-USAID dan Due Like Project. Dan disini ada Dr. Widjojo sebagai pembicara dari USAID yang akan memaparkan tentang Strategi Penerapan Perencanaan Partisipatif," ujar Ir. Agus Slamet,MSc, salah seorang panitia.

Acara seminar dan lokakarya yang bertemakan Pengembangan Kurikulum dan Perencanaan Partisipatif ini dihadiri pula oleh Prof.Dr.Ir. Enri Damanhuri dari ITB, Dr. Jayadi dari Departemen Kimpraswil dan Dr. Tuti Mariana Lim dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Sebagaimana tujuan dari lokakarya tersebut yaitu penyempurnaan kurikulum berbasis kompetensi, disampaikan oleh Dr. Yulinah sasaran kompetensi lulusan TL yang diharapkan yaitu mampu berperan efektif dalam disiplin ilmu dan mempunyai kapasitas untuk menjadi pemimpin.

Lebih dari itu lulusan TL juga diharapkan bisa memahami masalah kewirausahaan dan memiliki daya inovasi. Mereka juga dituntut untuk mampu dan terampil menggunakan teknik dan perangkat rekayasa teknologi.

Untuk lebih menyempurnakan kurikulum barunya TL membagi prosentase kompetensi kurikulum kedalam 3 prosentase besar. 40%-80% untuk kurikulum inti yang berisi mata kuliah yang menjadi ciri utama suatu jurusan atau program studi. 20%-40% untuk kurikulum pendukung yang lebih mengarah pada mata kuliah dasar/umum.

Selain itu, TL juga menyediakan prosentase untuk kurikulum kompeten yang lain sebesar 0%-30%. "Karena kita tidak menginginkan lulusan TL hanya bagus disipiln ilmunya tapi buruk dalam moral. Maka kurikulum kompeten yang lain itu kita tekankan pada perilaku dan sikap. Dan dalam hal inilah partisipasi masyarakat dan beberapa instansi terkait kami butuhkan. Yaitu untuk mendapat masukan tentang bagaimana lulusan TL itu dalam masyarakat dan dalam lapangan kerja mereka," jelas Dr. Yulinah.(sept/bch)

Berita Terkait