ITS News

Senin, 27 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Strategi Kolaborasi: Cerdas-Cerdas Memilih Mitra

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Menjadikan kolaborasi sebagai strategi yang tepat dalam mengembangkan usaha tidaklah mudah. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan, salah satunya adalah kiat memilih mitra yang andal dan terpercaya. Memilih mitra yang tepat merupakan kunci sukses dari kolaborasi itu sendiri.

Hal ini menjadi bahasan hari kedua seminar Teknik Industri & Manajemen Produksi Rabu (07/08) kemarin di Novotel Surabaya . Hadir dalam acara itu Ir Soenoto, ketua ISTMI dan Dr.Ir. Patdono Suwignjo, M.Eng.Sc. sebagai panelis utama. Acara yang bertajuk "Increasing Competitiveness through Collaboration" diselengarakan Teknik Industri ITS guna memgembangkan Strategi Kolaborasi lebih ke depan.

Kolaborasi ataupun kemitraan merupakan hubungan anatara perusahaan dan pihak lain untuk memenuhi tujuan bersama dalam prinsip kerjasama, dan keadilan. Kolaborasi pada umumnya dilakukan karena adanya saling membutuhkan. Kolaborasi tumbuh secara alami dalam dunia usaha. "Nggak ada satu perusahaan mampu berdiri sendiri tanpa bermitra," jelas Ir Soenoto. Ia mengandaikan, sebuah perusahaan itu sebagai satu batang lidi. Di mana jika bergabung dengan lidi-lidi lainnya dalam suatu ikatan yang erat dapat menghasilkan sapuan yang kuat.

Walaupun begitu melakukan kolaborasi tidaklah mudah, sedikitnya dibutuhkan komitmen yang kuat dan kesepahaman antara pelakunya. "Bisnis itu tidaklah semudah membalikkan tangan," kata peraih penghargaan Upakarti ini mengingatkan. Komitmen yang kuat artinya memberikan yang terbaik dalam memenuhi standar kualitas perusahaan. Salah satu filosofi yang harus dianut, menjadikan bisnis bukan ladang mencari uang. Melainkan sikap hidup, yang kalau dijalani dengan sabar dan jujur akan membawa kuntungan dan ketenangan dalam berbisnis. "Janganlah berpikir untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, berpikirlah untuk bekerja," tegasnya lagi.

Dalam kolaborasi juga hendaknya terdapat kesepahaman antar pelaku. Para pelaku hendaknya tidak hanya berpikir pada pembagian keuntungan namun juga berbagi resiko dan tanggung jawab. Untuk itu harus ada perhitungan dan kesepahaman di awal sebelum menjalankan kemitraan.

Kegagalan dalam berkolaborasi pun sangat besar. Dipaparkan oleh Patdono, sebuah contoh kegagalan kolaborasi. Saat PLN bermitra dengan KUD untuk proses pencatatan meter bagi pelanggan PLN di suatu wilayah. Namun usaha itu gagal di tengah jalan. Karena tidak adanya kesepahaman, pihak PLN merasa dirugikan dengan tingginya gugatan konsumen akibat keteledoran pihak KUD. Citra PLN pun jadi turun. "Hampir 30% kolaborasi gagal," kata Patdono yang juga staf pengajar TI ITS. Menurutnya, evaluasi di awal, pertengahan maupun saat akhir kemitraan harus senantiasa dilakukan untuk menekan potensi kerugian. (ryo/bch)

Berita Terkait