ITS News

Jumat, 19 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Shahab : Saya Lebih Mulia dari Einstein

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Bulan Muharram, JMMI menggelar Kajian Islam Sambut Muharram (Kisma). Acara ini dihadiri lebih dari 60 orang. Kajian yang bertema Jelang Muharram Raih Kebenaran Hakiki, Gapai Kemuliaan Tertinggi ini ditempatkan di Masjid Manarul Ilmi, Kamis (24/2). Kajian ini mendatangkan dua pembicara. Mereka adalah Dr Ir Abdullah Shahab DEA, dosen Teknik Mesin ITS serta Ustadz Abu Wildan, pengisi kajian TVRI.

Ustadz Abu Wildan awalnya menceritakan tentang dakwah Rasulullah. Cara berdakwah Nabi Muhammad SAW yaitu dengan lisan yang kemudian diaplikasikan oleh teladan. Namun, hikmah merupakan inti metode yang digunakan Rasul. "Dalam hadist disebutkan, ajaklah semua ke jalan Tuhanmu dengan hikmah," ungkapnya. Hikmah yang dimaksud haruslah disesuaikan dengan kapasitas pengetahuan dan berpikir. Misalnya, para sahabat di zaman Rasulullah mudah untuk diajak berdakwah dengan dalil karena kadar intelektualnya terjamin. Akan tetapi, bagi kalangan awam, ajakan berdakwah dilakukan dengan memberikan nasehat. Mereka akan lebih mengerti melalui cara ini.

Sekarang, melihat fenomena umat Islam yang kian menurun kualitas imannya, pengisi kajian TVRI ini kemudian menjelaskan strategi untuk memantapkan akidah mereka. Pertama, umat harus dikenalkan dengan eksistensi Tuhannya. Kedua, pengenalan siapa musuhnya. "Mereka harus tahu musuh Allah, Rasul dan ibadah," tegas ustadz yang memiliki sepuluh anak ini. Musuh Allah dan Rasul-Nya adalah setan, sedangkan musuh kita dalam beribadah yaitu 'thoughut'. 'Thoughut' yang dimaksud ini adalah seluruh objek ibadah selain Allah.

Sementara itu, Abdullah Shahab megupas sisi lain Rasulullah. Nabi pernah bertanya kepada sahabatnya tentang siapa orang yang paling kuat imannya. "Ternyata kata Rasul orang tersebut adalah kaum yang datang setelah mereka," ujarnya. Maksudnya adalah kaum yang hidup jauh dari jarak dari zaman nabi Muhammad. Ini karena mereka punya keyakinan kuat untuk percaya ajaran Beliau walaupun tidak bertemu langsung dengan Nabi.

Shahab juga memberikan komentarnya terhadap Michael Hart yang pernah menempatkan Rasulullah sebagai orang nomor satu di dunia. "Saya senang dia objektif, tapi saya tidak suka kalau Rasul dibandingkan dengan Einstein atau Benjamin Franklin," ujarnya. Dosen Teknik Mesin ITS ini mengatakan bahwa tidak sepantasnya Rasul dibandingkan dengan orang musyrik, walaupun mereka adalah penemu. Dengan nada guyon, Shahab mengatakan dirinya bisa saja lebih mulia daripada para ilmuwan itu.

Terakhir, Shahab yang juga termasuk instruktur NQA ini memberikan petuah kepada peserta. "Janganlah jadi orang umum karena kebanyakan orang adalah orang kebanyakan, jadilah yang khusus," ujarnya berfilosofi. Oleh karena itu, dia menganjurkan untuk banyak membaca buku dan belajar. "Tapi, hati-hati dalam membaca buku ghaib atau aliran tertentu," pesannya. Ini dapat menyebabkan turunnya iman seseorang. Kalau tetap ingin membaca, kita harus punya landasan yang kuat terlebih dahulu. (th@/tov)

Berita Terkait