ITS News

Kamis, 07 Juli 2022
15 Maret 2005, 12:03

Seminar Pendidikan di British Council; kuliah S-2 hanya setahun

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Keinginan pemerintah Inggris (Baca : Inggris Raya) agar lebih banyak mahaiswa Indonesia yang kuliah di Inggris semakin nampak. Hal ini jelas terlihat dalam seminar sehari "Education @ UK" yang berlangsung Sabtu (22/06) kemarin. Acara yang diselenggarakan British Council Surabaya banyak mengulas keunggulan dan kemudahan pendidikan di Inggris Raya dihadiri puluhan mahasiswa maupun pelajar Surabaya.

Standar pendidikan Inggris telah diakui dunia Internasional. Berbagai penemuan dan ilmuwan lahir dan besar di sana. Dari mesin uap sampai kloning lahir di sana. Negara kepulauan ini bahkan didaulat sebagai lokomotif era Industri di abad 19. Bahkan Amerika Serikat yang terkenal dalam kualitas pendidikan ternyata menduduki peringkat pertama dalam jumlah mahasiswa asing di Inggris sampai saat ini. Jauh melebihi mahasiswa Asia. " Nggak, tahu kenapa banyak orang Amerika sekolah di sana. Mungkin cari ilmu pada sumbernya," papar Ria Widjaja dari British Council.

Ada banyak alasan untuk menjadikan Inggris sebagai negara tujuan pelajar Indonesia. Bahasa merupakan alasan utama memilih negara ini. Pelajaran bahasa Inggris semenjak SLTP menyebabkan kendala bahasa dapat diminimalkan oleh banyak mahasiswa. Meskipun begitu, banyak juga mahasiswa yang gagal saat kualifikasi di tanah air. "Skor TOEFL harus di atas 550, sedang IELTS minim 5.5," tutur Bandi, Instruktur Bahasa Inggris dari British Council. Menurutnya, kelemahan mahasiswa Indonesia terletak pada kemampuan menulis berbahasa Inggris. Sedangkan untuk berbicara, mendengar, dan membaca memiliki kualitas yang sama dengan negara lain.

Kelebihan utama yang menjadi sorotan banyak peserta seminar ialah program magister di Inggris. Program S-2 ini hanya perlu dijalani dalam setahun atau tiga kuartal. Dibanding negara eropa lainnya, seperti Prancis maupun Jerman, belajar S-2 di Inggris jauh lebih singkat. "Kualitas sama baik, kenapa harus lebih lama," sanggah Ria Widjaja. Ia menambahkan, kurikulum pendidikan Inggris dirancang lebih kepada praktik ketimbang teori. Kurikulum ini mengaju pada dunia kerja yang nyata prakteknya dan banyak dibutuhkan pasar global. Walaupun begitu penelitian dan pengembangan tetap menjadi pijakan utama sekolah magister di sana.

Seminar ini merupakan rangkaian acara ‘Open House’ British Council Surabaya yang berlangsung semenjak 20 sampai 29 besok. Lembaga yang beralamat di Jalan Cokroaminoto 12 ini, terbuka bagi siapa saja khususnya mahasiswa yang ingin mengenal maupun mempelajari kebudayaan Inggris. "Kantor kami terbuka untuk umum khususnya mahasiswa," jelas Titin, Deputi Manager British council Surabaya. (ryo)

Berita Terkait