ITS News

Kamis, 30 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Seminar Kecantikan Bagi Muslimah

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Tidak dapat dipungkiri, kecantikan adalah bagian dari kesempurnaan seorang wanita. Apakah itu kecantikan fisik (outer beauty, red) maupun kecantikan yang terpancar dari dalam diri (inner beauty, red), keduanya tidak dapat dipisahkan. Namun yang terjadi akhir-akhir ini, wanita yang merasa dirinya telah memiliki inner beauty terkesan mengabaikan perawatan fisik. Melihat kenyataan tersebut, FORHAT mengadakan sebuah seminar Kecantikan dan Kepribadian Bagi Muslimah, Minggu (3/10) di Gedung Pascasarjana.

"Akhir-akhir ini kami melihat bahwa beberapa muslimah masih banyak yang kurang paham tentang aturan berhias diri. Ada yang begitu takut berhias, ada pula yang sangat berani berhias. Batasan-batasan berhias itulah yang ingin di kupas dalam seminar hari ini," kata Rizki Febrianti, tim panitia. Acara yang tidak hanya diadakan bagi mahasiswa ITS ini juga mengundang mahasiswa dari UNAIR, UNESA dan masyarakat sekitar ITS. Karena sekretariat FORHAT yang berada di Keputih, panitia tidak menutup pendaftaran bagi masyarakat yang ingin mengikuti, tambah Rizki.

Acara yang dihadiri oleh dua orang pembicara ini diawali dengan paparan dr. Hammi Wahyudiono sebagai pembicara pertama. Alumni Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR ini memulai penjelasannya dengan tiga ciri wanita sholihah. "Seorang wanita, jika yang pertama kali menyentuh dia adalah suaminya yang sah, itu berarti dia termasuk wanita sholihah," ujar Direktur Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) ini. Selanjutnya, Hammi menambahkan, ciri lain seorang wanita termasuk dalam golongan tersebut adalah yang langsung menaati perintah suami dan ketika suami pergi dia tetap tinggal di rumah sampai suaminya kembali.

Tidak lupa, pria kelahiran Surabaya, 22 Juni 1968 ini menyampaikan empat tipe wanita. Tipe pertama adalah wanita yang taat terhadap nilai budaya yang tidak sesuai dengan Islam. Tipe kedua disebutnya wanita bingung. "Tipe ini masih belum paham dengan konsep keyakinan yang dia pegang. Misalnya, ketika ada undangan pengajian dia pakai kerudung. Tapi, kalau diajak arisan kerudungnya ditinggal," kata Hammi diikuti tawa peserta.

Sementara itu, pembicara kedua Ine Nova Ayu, lebih banyak memberikan paparan seputar pengaturan diri. "Sebagai wanita, kontrol terhadap kesadaran emosi sangat perlu dijaga," ujar alumni Teknik Fisika ITS ’88 ini. Ditambahkannya, penilaian terhadap diri juga harus diberikan, khususnya pada kecantikan fisik. Hal itu dapat dilakukan dengan sering berkaca dan introspeksi diri.

Selanjutnya, mantan instruktur John Robert Power ini menekankan kepada peserta untuk menjaga kepercayaan diri agar selalu stabil. "Self confidence itu sangat berpengaruh pada aura wajah dan tubuh kita. Jadi, kalau ada orang yang merasa rendah atau kebalikannya, itu akan terlihat dari raut mukanya," tutur Ine.

Peserta yang hadir tampak begitu antusias, terlebih ketika sesi tanya jawab dibuka. Beberapa diantaranya saling berebut kesempatan bertanya. Beberapa yang lainnya tampak kecewa ketika moderator memberikan isyarat waktu seminar telah berakhir. Namun, kekecewaan itu sedikit terobati ketika Ine memberikan nomor telepon yang dapat dihubungi oleh peserta yang masih belum puas dan tidak mendapat kesempatan bertanya.(sep/Lin)

Berita Terkait