ITS News

Sabtu, 28 Januari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Sembako Telat, Warga Sempat Ribut

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Serombongan mahasiswa ITS bergerak menuju Murukan, sebuah pedukuhan di desa Surodinawan-Mojokerto, yang saat minggu lalu diterpa luapan banjir air dan lumpur. Saat itu Kamis (12/2) sekitar pukul 12.00 wib. Di Murukan itulah didirikan posko aksi sosial. Tampak beberapa mahasiswa sibuk ‘menyulap’ rumah HM Sueb agar dapat dijadikan balai pemeriksaan kesehatan dan tempat pembagian sembako.

Belum juga usai mahasiswa menyiapkan tempat, beberapa warga sudah mulai berdatangan. Suasana pun tambah ruwet. Untunglah, para ketua RT sudah datang dan langsung menangani warganya. "Sebentar Bu, ini dulu dos air minum. Sembakonya belum datang," ujar seorang ketua RT setempat yang menenangkan warganya saat berdesak-desakan menunggu pembagian jatah. Truk pengangkut sembako saat itu memang belum datang. Truk itu sedang berada di Panggerman, area aksi sosial lain yang berada sekitar lima kilometer dari Murukan.

Namun tak lama kemudian, truk yang dinanti pun datang. Wargapun segera menghambur ke arah truk yang diparkir. Keributan sempat terjadi karena warga berebut untuk masuk pagar yang sudah di-setting panitia. Akhirnya mekanisme pembagian diubah, warga diperbolehkan masuk ke halaman, memutari truk, menerima sembako, baru kemudian keluar lewat pintu yang berbeda.

Di saat sama, di dalam rumah HM. Sueb, tim paramedis sudah menangani warga. Ternyata, banyak juga yang memanfaatkan jasa gratis ini. Seorang mahasiswi FK yang berjaga di bagian pendaftaran kewalahan. Pasalnya, pasien yang kebanyakan perempuan yang sudah berumur itu langsung mengeluh soal sakitnya. "Nanti bicara dengan dokternya di dalam saja Bu, soal keluhannya," tukas Yuniar dalam bahasa jawa, ramah.
Sementara itu,menurut dr. Lilik, paramedis yang menangani pasien, kebanyakan keluhan yang muncul adalah penyakit kulit, influenza, dan gangguan pada alat indera.

Banjir di Murukan ini paling parah selama sepuluh tahun terakhir. Ini menurut pengakuan Ponaji, ketua RT 19 Murukan. "Terakhir, tahun 1990, endapan lumpur cuma sekitar 10 cm," ungkapnya. Namun banjir yang mampu menjebolkan tanggul kali setempat ini membawa endapan lumpur hingga satu meter. (tov/har)

Berita Terkait