ITS News

Jumat, 19 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Sambut Enam Tahun Reformasi, BEM Adakan Seminar

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Gerakan mahasiswa memang tema yang tak pernah habis untuk dibahas, apalagi di bulan Mei ini, karena berdekatan dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional dan tragedi Trisakti sebagai momentum reformasi. Pada 20 Mei ini, BEM ITS menyelenggarakan seminar nasional "Menggagas Format dan Strategi Menjawab Permasalahan Bangsa dan Kepemimpinan Nasional" di teater PENS-ITS untuk memperingati kedua momen penting bagi mahasiwa itu. Pembicara yang didatangkan pun adalah mereka yang banyak terlibat dengan gerakan mahasiswa, yaitu mantan aktivis tahun 1998 Rama Pratama, ketua LBH Jatim Dedy P, pengamat politik M. Badarrudin Mahfuz dan tentu saja Rektor ITS Dr Ir Mohamad Nuh DEA.

"Acara ini diadakan untuk merefleksikan kembali semangat perjuangan tahun 1998 kepada mahasiswa, " terang Rendra Sanjaya, ketua BEM ITS, ketika ditanya tentang tujuannya mengadakan acara ini. Pihak BEM sendiri tidak tanggung-tanggung dalam mempublikasikan acara ini. "Kami sebarkan lewat selebran dan komunikasi langsung dengan jurusan-jurusan, "terang Rendra.

Para pembicara memiliki berbagai pandangan tentang gerakan mahasiswa dan reformasi. Menurut Badarrudin, karena jalannya reformasi yang lambat dan belum menunjukkan hasil, banyak masyarakat yang tidak puas dengan reformasi."Masyarakat yang tidak puas itu itu akhirnya menganggap bahwa lebih baik berada dalam masa Suharto dulu, " jelas pengamt politik dari CIR Jakarta ini

Sedang menurut Rama, tingkat kesuksesan Reformasi bisa dilihat dari tercapai atau tidaknya enam agenda reformasi, yang merupakan hasil pemikiran aktivis mahasiswa saat itu. "Agenda reformasi itu sudah mencerminkan apa yang harus dicapai dalam proses reformasi itu. Mulai yang bersifat simbolis yaitu adili Suharto hingga yang mendasar yaitu Amandemen UUD 45," jelas alumni Akuntansi UI ini.

Sementara itu Dedi P, memberi nasehat agar tidak melupakan unsur masyarakat lain. "Sangat naif bila mahasiswa hanya bergerak sendiri. Mahasiswa harus mendekati masyarakat terutama kalangan buruh," jelas ketua LBH Surabaya ini. "Sebab status mahasiswa bukanlah status seumur hidup. Setelah lulus kebanyakan mereka menjadi pekerja atau buruh," lanjutnya.

Lalu Dedi mencontohkan apa yang telah dilakukan mahasiswa di Korea Selatan. Di sana, kata Dedi, mahasiswa menyadari arti pentingnya kerja sama dengan kaum pekerja. "Dalam setiap aksinya mereka berkoordinasi dengan serikat buruh. Sehingga tujuan mudah tercapai, " terangnya.
Sementara itu Rektor ITS meminta agar para aktivis tidak ‘cengeng’. "Aktivis harus mengemas agar menarik dan tidak meminta-minta. Aktivis juga harus tetap memperhatikan kegiatan kuliah, serta tidak menjadikan kegiatannya sebagai alasan kalau nilainya jatuh," jelas Rektor saat menanggapi pertanyaan seorang peserta.

Seminar ini berlangsung sangat seru, berbagai pemikiran baik dari peserta maupun pembicara sempat mengemuka. Mulai dari wacana syariat Islam hingga revolusi. Para penyaji sepakat bahwa revolusi tidak bisa dilakukan di Indonesia. "Media perubahan yang tepat di Indonesia adalah kombinasi antara perjuangan di dalam dan luar perlemen," jelas Dedi.

"Bagi mereka yang selalu berteriak revolusi jangan ngomong saja tapi mulai mendekati
masyarakat, " jelas Rama seraya menunjukkan keberhasilan salah satu partai di Pemilu 2004 karena keberhasilan pengurusnya mendekati masyarakat.(rif/ryo)

Berita Terkait