ITS News

Kamis, 11 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Sahabat Sejak SMA, Sama-sama Raih Cumlaude

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Wisudawan dari Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini merupakan sahabat sejak di bangku SMA, meski asal SMA-nya berbeda. "Saya mengenal Deni saat sama-sama ikut Olimpiade Kimia di tingkat Kabupaten di Kediri, kemudian saat di ITS ketemu lagi pada jurusan yang sama dan masuk lewat cara yang sama PMDK," kata Martasari membuka pembicaraan.

Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Karsono Marwadi Hardjo, karyawan Perum Pegadaian ini mengatakan, ia termotivasi untuk segera menyelesaikan studinya dengan waktu sesingkat mungkin karena ingin memberikan contoh kepada adik-adiknya. "Itulah sebabnya setiap kuliah saya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk bisa mengerti materi yang disampaikan oleh dosen. Kalau saat itu tidak mengerti, maka saya harus mengulangnya kembali di rumah hari itu juga hingga paham," kata mantan pengurus lembaga Legislatif Mahasiswa di Komisi Pengembangan Sumber Daya Manusia ini.

Prinsip itulah, kata gadis kelahiran Kediri, 1 Maret 1983 menambahkan, yang coba ia diterapkan didalam meraih prestasi selama ini. "Kalau ada teman-teman mahasiswa menggunakan system belajar semalam menjelang ujian, maka saya menerapkan belajar sistem kebut tiap hari agar semua materi bisa dimengerti saat itu juga," kata Marta berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,5 tahun dimana dua tahun diantaranya ia berhasil menerima beasiswa. Apalagi rahasia belajarnya? "Tidak ada yang saya rahasiakan. Tapi mungkin saya memiliki motivasi tersendiri di saat-saat saya bangun malam untuk salat, berdoa dan belajar," katanya.

Tidak beda jauh dengan pengalaman rekannya, Deni Megawati juga punya motivasi yang hampir sama didalam menyelesaikan kuliahnya yang hanya 3,5 tahun itu. "Sebagai mahasiswa dari orang tua yang penghasilanya tergolong pas-pasan, maka saya harus bisa menyelesaikan kuliah secepatnya. Ini bukan berkait dengan soal SPP, tapi lebih pada kebutuhan biaya hidup di Surabaya," kata putra ketiga dari empat bersaudara pasangan Siti Alimah dan Sukadi, PNS di RS Umum Pare ini.

Deni mengungkapkan, awalnya ia tidak begitu senang dengan matematika, tapi karena saat di bangku SMP ia pernah diejek oleh guru, tidak bisa mengerjakan soal matematika, maka mulai saat itulah ia seolah ingin memberontak dan mau menunjukkan kalau ia sesungguhnya juga mampu dan tidak seperti yang dituduhan oleh guru matematika itu. "Sungguh saya merasa sakit hati dibilang tidak mampu matematika, karena itu saya dendam dan ingin menunjukkan kalau saya bisa dan mampu," kata peraih indeks prestasi kumulatif 3,67, yang kini malah diminta untuk mendampingi mengajar mahasiswa S2 dan sebelumnya menjadi asisten dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Surabaya. (humas/bch)

Berita Terkait