ITS News

Senin, 27 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Robot ITS Gagal di Bangkok

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

SURABAYA – Robot juara nasional milik Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS-ITS) bernama AI-Sya (Artifisial Intelegence-Sya/Sya dalam bahasa Jepang berarti diciptakan) gagal menjuarai lomba di Bangkok, Thailand.

Gugurnya wakil Indonesia ini dipastikan setelah kalah dari robot Thailand yang diwakili King Mongkot Institute Of Technology dengan skor telak 31-15. "Inilah hasil yang bisa kami berikan. Tapi kami tetap bangga, karena yang mengalahkan AI-Sya adalah juara dunia dua kali," kata Rektor ITS Dr Ir Mohammad Nuh DEA, kemarin.

Kontes robot di Bangkok ini diikuti 21 robot dari 20 negara. Thailand sebagai tuan rumah, berhak mengirimkan dua tim robot. Satu tim terdiri dari satu robot manual, dan tiga robot otomatis. Robot-robot ini berlomba memasukkan bola takraw sebanyak-banyaknya ke dalam ring basket setinggi 3 meter dalam waktu 3 menit. Tim yang memasukkan bola takraw terbanyak dinyatakan sebagai pemenang.

Pertandingan ini berlangsung Minggu kemarin. AI-Sya berada satu grup dengan Makao dan tuan rumah Thailand. Pertandingan pertama melawan Makao dimenangkan AI-Sya dengan skor telak 29-0. Sayangnya pada pertandingan kedua, AI-Sya harus mengakui keunggulan Thailand.

Kekalahan itu membuat AI-Sya gagal menjadi juara grup, karena Thailan juga berhasil mengalahkan Makao. Dan akhirnya robot Thailand ini berhasil menjadi juara dunia untuk kedua kalinya, setelah menang di final dalam partai all Thailand Final.

Apa penyebab kekalahan AI-Sya? Menurut direktur PENS-ITS Titon Dutono, robot ITS yang dijalankan oleh Hasan Habibie, Fernando Ardila, dan Danang Setyo Wibowo itu sebenarnya tidak terlalu kalah dengan robot tuan rumah. Hanya saja, saat robot manual berebut menempati posisi under basket, AI-Sya kalah cepat. Sehingga, robot buatan arek-arek ITS ini harus menembakkan bola takraw dari jarak jauh. "Tentunya kesempatan memasukkan bola, lebih kecil dibanding posisi lawan," paparnya.

Selain itu, faktor komunikasi antar anggota tim juga dinilai kurang maksimal. "Kuncinya sebenarnya ada pada koordinator regu, yang memberi komando pergerakan robot," imbuh Titon. (tom)

Berita Terkait