ITS News

Rabu, 07 Desember 2022
15 Maret 2005, 12:03

Presiden BEM ITS, Bukan Presiden Golongan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Pemilu Raya 2003 memang baru akan dimulai. Namun, tiga kandidat Presiden BEM ITS telah beradu visi dalam serangkaian kampanye monologis dan dialogis yang berakhir Kamis (6/10) lalu. Ada beberapa catatan saat pelaksanaan kampanye terakhir yang digelar di Kantin Pusat itu.

Mengapa kampanye terakhir yang dibidik? Karena dalam adu visi kandidat di Kantin Pusat itu yang paling seru. Jumlah simpatisan yang meluber, sudah pasti. Namun jalannya kampanye itu menjadikannya yang kian menarik dicermati.

Tiga kandidat, masing-masing Arrozi ( Teknik Kimia ), Rendra ( Teknik Mesin ), dan Surachman ( Teknik Fisika ) beradu visi soal kepengurusannya setahun ke depan. Tiba giliran diberi kesempatan berdialog, suasana yang semula adem-ayem berubah panas. Pasalnya, para pendukung kandidat #8211; yang notabene memiliki basis massa organisasi ekstra kampus (ORMEK) berbeda-beda #8211; saling berebut pengaruh. Ajang yang seharusnya digunakan untuk memaparkan visi calon Presiden BEM malah jadi arena hujat-menghujat.

Isu-isu tak sedap soal kepemimpinan Nugroho Fredivianus, Presiden BEM sekarang, dibeber habis-habisan. Para kandidat #8220;dipaksa#8221; untuk memberikan pernyataan soal mundurnya Nugg dari jabatan Presiden BEM ITS. Tak ayal, kesempatan itu digunakan oleh kandidat untuk mencerca habis-habisan, khususnya kandidat yang berseberangan politik dengan Nugg. Padahal, ini bulan puasa lho…

Tak cukup itu, jabatan Presiden BEM ITS yang selama ini dipegang berturut-turut empat kali oleh satu kader ormek tertentu, juga sempat dipersoalkan oleh seorang penanya. Walaupun kemudian ia buru-buru meralatnya.

Belum lagi isu penggunaan fasilitas kampus yang ditengarai dimonopoli oleh golongan tertentu.( Dalam benak saya, mungkin yang dimaksud Masjid Manarul Ilmi, benar atau tidak ya? ).Sangat terasa sekali ada unsur kepentingan politis yang bermain di sini

Dalam tafsir saya, yang awam dengan urusan politik, rupanya terjadi ketidakharmonisan antar ormek yang ada di ITS. Itu sah-sah saja terjadi, begitu menurut rekan saya yang seorang aktivis. Namun, mengapa rasa saling curiga itu sampai menyebabkan tarik- menarik kepentingan dan ideologi? Apalagi ini kan hanya untuk jabatan Presiden BEM ITS. Tentunya, tidak ada korelasi struktural antara jabatan Presiden BEM dengan ormek, kecuali mungkin korelasi politik dan primordial.

Nah, kalau untuk urusan jabatan Presiden BEM saja kita masih mementingkan golongan, bagaimana kalau kita nanti menjadi wakil rakyat atau pemimpin bangsa ini? Mustahil bagi kita untuk dapat memihak rakyat kalau semasa muda kita dilatih dengan hal seperti itu.

Ah, mudah-mudahan ini cuma menjadi khayalan saya saja ya…

TAUFIK HARIYADI
Jurnalis ITS Online

Berita Terkait