ITS News

Senin, 30 Januari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Praktisi bicara analisa Tren Bisnis 2005 di Jawa Timur

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Seminar yang bertema Guide to invest in East Java ini digelar pada Selasa (8/2) kemarin. Acara yang ditempatkan di ruang auditorium gedung Pasca Sarjana ITS dihadiri sekitar tiga puluh orang. Padahal dua pembicara yang diundang cukup dikenal. Beliau adalah Drs. Kresnayana Yahya, praktisi dan pengamat ekonomi serta HM Rudiansyah, ketua KADIN Surabaya. Mengenai jumlah peserta, Windu, koordinator panitia mengatakan penyebabnya publikasi yang mendadak dan kurang menyebar. "Memang jauh dari target awal kami," komentar mahasiswa Teknik Mesin ITS angkatan 2003 ini.

Dalam seminar itu Kresnayana menganalisa problem, peta bisnis beserta prospeknya di kawasan Jawa Timur. "Jatim sebenarnya kelebihan beras 4 juta ton per tahun, sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik," ungkap Direktur sekaligus owner ENCIENTY ini menjelaskan. Di sisi lain, peningkatan infrastruktur akan jadi dorongan utama bagi perekonomian Jatim.

Tentang kondisi perekonomian Jatim tahun 2004, Kresna mengatakan pertumbuhannya sekitar 5,3% dan inflasi mencapai 5-6%. Sedangkan prospek 2005 akan diperkirakan tumbuh lebih dari 5,5. Sektor yang berkembang diantaranya tanaman pangan, ikan dan ternak yang meningkat tajam.

Praktisi dan pengamat ekonomi ini juga menilai kurang variatifnya pengusaha tambak dalam mengelola usahanya. Padahal, profit yang didapatkan sangat besar dan prospek tahun ini juga tampak menjajikan. Ia kemudian mencontohkan seorang pengusaha ikan lele di Jombang yang sukses. "Bibit lelenya saja amat murah, hanya Rp 27. Tapi, sekali panen sudah Rp 300 juta," tandasnya. Dosen Statistik ITS ini mengungkapkan, yang dibutuhkan pengusaha tambak hanya ada dua. "Mereka hanya perlu cari bibit yang baik dan water managemen," kata beliau.

Terakhir, Kresnayana menyayangkan mahasiswa ITS yang hanya ingin jadi Pegawai Negeri. "Kalian kan punya kompetensi, gunakan itu untuk buat kerja sendiri," komentarnya. Ia lalu mengatakan bahwa invest ITS terlalu mahal jika mereka hanya menjadi pegawai rendahan. "Tapi kalau memang ingin jadi pegawai negeri, ya jangan jadi yang korup," ujarnya berpesan seraya diiringi tawa peserta.(th@/sep)

Berita Terkait