ITS News

Senin, 27 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Perancang Pasar Atom Itu Kini Memasuki Purna Tugas

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Ir Harjono Sigit Bahrul Salam. Rabu (6/10) siang kemarin bersama teman sejawatnya Ir Djoko Mintarso, mengakhiri masa purna tugasnya ITS Surabaya, sebagai dosen senior di Jurusan Arsitektur. Apa pandangannya tentang pasar tradisional di Surabaya yang kini seolah berlomba dalam upaya untuk melakukan modernisasi? "Mungkin itu tuntutan zaman, dan itu memang tidak bisa dihindarkan. Karena memang tidak ada investor yang mau membangun pasar dengan tempat yang benar-benar baru, resiko tidak diminati, sepi pengunjung, sangat besar," katanya.

Itulah sebabnya, katanya menjelaskan, kenapa investor kemudian melirik pasar-pasar tradisional yang memang sudah ada dan keberadannya diakui masyarakat untuk dimodrenisasi atau dilakukan penataan ulang. Karena memang pasar tidak bisa diciptakan oleh kehadiran sebuah bangunan, melainkan pasar tercipta oleh adanya pembeli dan kepentingan masyarakat. "Ada banyak contoh pembangunan pasar gagal karena hanya mempertimbangkan pada aspek ketersediaan bangunan. Mungkin kita masih ingat ketika Pemkot Surabaya berusaha untuk membangun Pasar Induk di Kawasan Kutisari untuk menggantikan Pasar Keputran, hasilnya tidak berhasil," kata ayah dari enam putra dan sembilan cucu ini.

Itu pulalah, katanya menjelaskan yang dilakukan saat ia diminta untuk merancang Pasar Atom tahun 1970-an. "Pasar Atom bukan pasar yang benar-benar baru, karena sebelumnya memang sudah ada transaksi antara pembeli dan penjual, baik yang berada di Depan Stasiun Semut waktu itu maupun di pinggiran Kali Pegirikan. Dan investor waktun itu ingin menampung kegiatan pedagang yang sudah ada sebelumnya," katanya.

Ayah dari Maiya Achmad Dhani –isteri Achmad Dhani dedengkot Kelompok Musik Dewa– ini kemudian menjelaskan panjang lebar tentang konsep untuk membangun pasar, ditinjau dari sudut pandang seorang arsitektur. Pertama, katanya menjelaskan, berkait dengan lokasi yang tidak hanya mudah untuk dijangkau tetapi juga dipertimbangkan sudah ada penjual dan pembeli di sana. "Kedua aspek kenyamanan dan keamanan, baik bagi pengunjung atau pembeli maupun bagi penghuni atau penjual. Ini penting karena tanpa jaminan kenyamanan dan keamanan, meski sebuah pasar sudah dilakukan modernisasi, mungkin pembeli akan enggan untuk berbelanja. Pembeli malah mungkin akan berpikir, ternyata jauh lebih enak berbelanja sebelum dibangun," kata cucu dari Pahlawan Nasional H.O.S. Tjokroaminoto ini.

Itu sebabnya, katanya mengungkapkan, saat ia merancang Pasar Atom untuk tujuan mengajak atau memindahkan aktivitas pasar yang sudah ada sebelumnya, mempertimbangkan pula aspek kenyamanan dan keamanan. "Maka saya buatlah konsep untuk membangun kolam renang berukuran 16 x 50 meter dengan kedalaman maksimal 1,5 meter di lantai lima. Tujuannya air pada kolom renang itu bisa digunakan sewaktu-waktu jika terjadi kebakaran. Kalau pun saat kebarakan lalu itu tidak digunakan saya tidak mengerti alasannya," kata pria kelahiran Madiun, 21 September 1939 ini.

Mantan Rektor ITS periode 1982-1986 ini juga menyampaikan tentang tantangan masa depan dunia aristektur dan pendidikan, karena itu ia berpesan, agar terus belajar dan waspada dengan munculnya globalisasi, yang mau tidak mau, siap dan tidak siap harus dihadapi. "Dulu ketika saya masuk Surabaya, arsitektur hanya tujuh orang, kini jumlahnya terus bertambah, dan saingannya tidak hanya datang dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri," katanya.

Tentang suka dukanya menjadi Rektor, Harjono Sigit juga mengungkapkan, saat ia dipercaya untuk menduduki jabatan itu, ia seolah-olah hanya menjadi bamper dari warga kampus. "Betapa tidak, saat itu Mendikbud-nya Pak Daud Yusuf, orangnya keras, sementara warga kampus yang kita tahu tidak mau diperintah atau diperlakukan dengan keras, maka jadilah rektor waktu itu sebagai bamper," katanya.

Belum lagi yang berkait dengan minimnya anggaran dari pusat. "ITS dengan kampus yang luas waktu itu tidak mempunyai dana yang cukup untuk perawatan, maka jadilah ITS waktu itu ditumbuhi dengan alang-alang yang tinggi. Gedung pun banyak yang rusak tidak terurus," kata Harjono Sigit mengenang. (Humas/bch)

Berita Terkait