ITS News

Senin, 08 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Penting, Pahami Fenomena Perang Modern

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Seiring bergantinya zaman, berubah pula trend aktifitas manusia, termasuk pergeseran hakekat dan substansi dari suatu aktifitas itu. Perang juga demikian, kegiatan manusia yang bertujuan untuk memenangkan suatu kepentingan nasional ini telah mengalami banyak pergeseran. Sehingga kini, kita harus mewaspadai perubahan substansi dari perang bila tidak ingin terjebak dan terpuruk didalamnya.

Itulah yang diungkapkan Prof Dr Ir Mohammad Nuh, DEA. diawal sambutannya membuka Seminar dan lokakarya bertajuk ‘Bangsa Indonesia Terjebak Perang Modern’. "Pergeseran substansi perang bukan sekadar mode, kita harus bisa menangkap hakekat dan substansi yang dibawa oleh perang jika tidak mau terjebak," kata Rektor ITS ini mantap. Ia juga menambahkan bahwa perang itu ada karena adanya suatu kepentingan.

Ditegaskannya pula, kegiatan semacam ini sangat penting, khususnya diadakan di lingkungan akademis seperti ITS. "Kegiatan penalaran sangat penting, karena rutinitas akademik mengakibatkan pemahaman terhadap aspek aspek lain menjadi tumpul,".

Hadir sebagai pembicara dalam acara ini antara lain Dr Dede Oetomo, seorang akademisi dan pengamat sosial politik Surabaya, Dahlan Iskan CEO Jawa Pos Group dan yang terakhir sebagai keynote speaker, Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AD (Seskoad)Mayjen TNI Syarifudin Tippe,SIP. MSi.

Masing-masing dari pembicara membawakan topik tinjauan Perang modern dari kaca mata yang berbeda-beda. Pada sesi pertama, Dede mengulas tentang pemahaman fenomena perang modern sebagai kekuatan pasca perang dunia II dan perang dingin. dalam kesempatannya ia membagi perang menjadi empat generasi. Setiap generasi yang menentukan adalah senjatanya, mulai dari perang dengan senapan kuno sampai dengan perang tanpa sejata dan kontak fisik atau disebut perang modern.

Namun, yang paling penting untuk menyiasati perubahan generasi itu menurut pria bertubuh tambun ini adalah bagaimana kita memposisikan diri. "Apapun yang kita lakukan, kita harus dapat memposisikan diri, untuk apa yang akan kita lakukan itu," kata sosiolog ini mengakhiri sesinya.

Masih dalam sesi yang sama, Dahlan Iskan mengatakan perang di dunia terdapat beberapa tahapan, mulai dari perang daratan dimana yang berkuasa adalah bangsa Timur tengah, lalu dilanjutkan perang laut yang dikuasai oleh bangsa eropa dan dilanjutkan dengan perang udara yang dikuasai Amerika Serikat. Tapi kesemua itu punya kesamaan tujuan yaitu ekonomi.

Penguasa media informasi di Surabaya ini juga mengingatkan akan tantangan besar perang modern yang akan datang. "Yang akan Kita hadapi 15 sampai 50 tahun yang akan datang adalah serba tidak jelas, yaitu RRC," kata Dahlan.

Menurutnya, RRC adalah negara dengan populasi terbesar, dengan sikap hidup flexible. "Dan yang paling tidak jelas, RRC tidak beragama, jadi tidak bisa dilawan dengan sentimen agama," tambahnya. Satu satunya cara menurutnya adalah dengan tidak melawannya, tapi merangkulnya.

Sementara itu pada sesi kedua bertema ‘Platform Spiritualisme menghadapi Perang Modern’ Syarifudin Tippe menjelaskan pengertian PM adalah suatu bentuk penguasaan sebuah negara tehadap negara lain dengan membuat dan memanfaatkan kerawanan negara sasaran pada berbagai aspek kehidupan, dengan cara non fisik (psikis/tidak dengan kontak senjata) dan cara fisik bila bersenjata bila diperlukan.

Syarifudin juga memaparkan bahwa eksistensi PM telah mempengaruhi sendi sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga menggoyahkan wawasan semangat kebangsaan. menurutnya revitalisasi wawasan kebangsaan berbasis spiritual merupakan solusi untuk menghadapi perang modern.

Seminar yang diadakan oleh UKM Penalaran ITS bekerjasama dengan Sekretariat Bersama Konsolidasi Demokrasi Jawa Timur ini tidak hanya dihadiri oleh aktifis dari kalangan mahasiswa, melainkan juga dari kalangan praktisi hukum, ulama, LSM, Dinas Pemerintah, Organisasi politik, dan guru. Acara yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB ini ditutup dengan buka puasa bersama. (asa/bch)

Berita Terkait