ITS News

Minggu, 26 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Penggambar Ulang Planet Tangkapan Satelit

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Superlead: Mengamati planet kelak tak akan sepelik sekarang. Setidaknya, bila software karya Warsono, arek ITS, bisa dikembangkan dengan optimal. Untuk memenuhi tugas akhirnya, mahasiswa teknik elektro ini merancang sebuah software yang mampu menggambar ulang gambar planet hasil tangkapan satelit.

Selama ini, gambar hasil tangkapan satelit seringkali terganggu oleh kesalahan fokus. Ia telah meneliti gambar hasil foto satelit yang ada di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Juanda. Jepretan itu lantas ia bandingkan dengan yang dimiliki BMG Jakarta. Hasilnya, gambar milik BMG Jakarta lebih fokus.

Berpijak pada kondisi itu, ia mencari suatu pola khusus untuk memperbaiki citra (gambar) yang ditangkap, andaikan terjadi ketidakfokusan. "Proses yang memakan waktu paling lama dalam pembuatan software ya kala mencoba membandingkan dua gambar itu. Menentukan mana yang bisa dijadikan pola dalam menggambar ulang, ternyata butuh ketelitian tinggi," jelas mahasiswa angkatan 1995 ini.

Dalam menyusun software, Warsono menggunakan konsep algoritma genetika. Algoritma genetika merupakan algoritma pencarian (search) yang menyerupai mekanisme seleksi alam dan evolusi biologis. Algoritma ini akan mengombinasikan daya tahan (survival) dari suatu struktur data yang paling tegar (fittest).

Ditanya tentang akurasi gambar yang telah diproses menggunakan software buatannya, ia yakin, hasilnya cukup prima. "Kualitas gambar hasil penerapan algoritma genetik amat berbeda dengan hasil high pass filter-nya Adobe Photoshop," ujar alumnus SMUN 5 Surabaya ini.

Menurutnya, algoritma genetik melakukan perbaikan pada setiap titik di citra. Sedangkan high pass filter melakukan perbaikan di setiap daerah pixel sesuai ukuran matrik. "Hal ini membuat gambar hasil proses algoritma genetika jadi lebih detail dan teliti," tegas Warsono.

Tentu saja hasilnya lebih detail. Sebab, menggambar ulang memerlukan waktu cukup lama. Bisa sampai 12 jam 48 menit. Maklum, besar gambar yang diproses 640 x 480 pixel. "Nah, program saya ini diatur supaya memproses gambar bagian per bagian. Masing-masing 10 x 10 pixel. Tiap bagian memerlukan waktu proses 15 detik. Jadi, total waktu prosesnya setara dengan 64 x 48 x 15 = 46.080 detik atau sekitar 12,8 jam!" jelasnya.

Ia mengaku, saat gambar hasil penerapan algoritma genetika itu ditunjukkan ke BMG Juanda, mereka menilai cukup bagus. "Mereka sempat pula meminta agar penampakan awan pada gambar diperjelas. Yang sebaiknya tampak lebih jelas gambar awan, bukan daratan. Sebab, mereka memang lebih membutuhkan informasi pergerakan awan daripada daratan," paparnya. (fok)

Berita Terkait