ITS News

Minggu, 27 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Pasutri Profesor dari ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Jumat, 30 Agt 2002
SURABAYA – Yang istimewa, keduanya akan dikukuhkan sebagai guru besar ke 23 dan ke 24, Oktober nanti.

Meski demikian, saat ini mereka sudah berhak menyandang gelar profesor di depan namanya. "Proses pengajuan kita memang bersamaan, yakni sejak awal 2000 lalu. Tapi, sebenarnya SK penetapan saya sudah keluar lebih dulu, yakni setahun kemudian," tutur Noor Endah, 51 tahun. "Mungkin saya kurang wiridan," seloroh sang suami, Indrasurya, 49 tahun, yang duduk di sebelah istrinya.

Meski SK penetapannya sebagai guru besar keluar lebih dulu, tapi Noor Endah sengaja menunda pengukuhannya, sambil menunggu sang suami mendapatkan SK yang sama. Dan, Agustus ini, SK Indrasurya sebagai guru besar di FTSP ITS akhirnya keluar.

Kekompakan serupa juga ditunjukkan pasutri ini pada saat menyelesaikan program pascasarjana. Keduanya sama-sama mengambil master dan doktor di University of Wisconsin, AS.

Ketika Noor Endah ditanya, mengapa pengukuhan profesornya harus menunggu sang suami, dia menjawab, demi pengiritan. "Kami berkecimpung di dunia yang sama. Kalau pengukuhan bisa bareng, kan biayanya lebih irit," ujarnya seraya tersenyum. Selain irit biaya, hal itu dipandangnya sebagai langkah yang efisien bagi relasi maupun keluarga keduanya. "Mereka tak perlu dua kali menghadiri pengukuhan kami berdua," cetus Indra.

Diceritakan, dia sebenarnya telah mengupayakan gelar guru besar tersebut sejak 1994. Sayangnya, pada tahun itu dia mengalami musibah. Semua berkas administrasinya terbakar. "Terpaksa mengumpulkan poin dari awal lagi," terang pria yang suka guyon ini.

Meski demikian, secara tegas Indra menyatakan, gelar yang diperolehnya itu bukanlah segalanya. "Kalau mau, dari dulu-dulu Bapak sebenarnya sudah bisa mengurus penetapannya sebagai guru besar. Tapi Bapak orangnya nggak mau repot urusan gelar sih," celetuk Noor Endah menimpali pernyataan suaminya.

"Yang kami cari kan ilmu, lalu diamalkan. Soal gelar itu nomor kesekian. Kalau bagi saya, justru masa-masa kuliah meraih program doktor yang paling terasa berarti, " tutur Ketua Jurusan Teknik Sipil ini.

Pada pengukuhan Oktober nanti, meski satu jurusan, baik Indra maupun Noor Endah mempunyai bahasan yang berbeda untuk orasi ilmiah mereka. Sang suami membahas tentang teknologi perbaikan tanah. Sedangkan sang istri akan membacakan orasi ilmiahnya tentang Geotechnical Engineering and Environmental Impact.

"Sama-sama tentang geoteknik, tapi saya lebih fokus dampaknya terhadap lingkungan," cetus Noor Endah yang sudah mengabdi 25 tahun di ITS ini.

Pasangan Noor Endah dan Indra ini menikah pada 1979. Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Indra besar dalam keluarga yang modern. Sedangkan Noor Endah berasal dari kalangan Jawa konservatif. "Ibunya suka mendengarkan lagu barat, kalau ibu saya ke pengajian," ungkap perempuan yang juga anggota Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia ini.

Namun, bangku kuliah di teknik sipil ternyata berhasil menyatukan keduanya. Noor Endah masuk Teknik Sipil 1970, dua tahun kemudian Indrasurya menyusul. Namun, pada saat kelulusan, Indra berhasil menyamai Noor Endah. "Saya diuntungkan perubahan kurikulum. Jadi, saya bisa lulus lima tahun," ungkap Indra yang hobi baca komik Kho Ping Ho ini.(ryo/ani)

Berita Terkait