ITS News

Minggu, 26 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Pak Item, "Anak ITS Itu Bau!&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Berbeda dengan sehari sebelumnya, Bursa Karir PIMITS VI hari kedua, Kamis (27/2) menggelar seminar. Dengan mengambil tema "Kiat Sukses Memasuki Dunia Kerja" berbagai masalah seputar melamar pekerjaan dikupas.

Kali ini, panitia menghadirkan dua orang pembicara, Ir. H.M.Djaelani,MM, Kadisnaker Jatim, dan Ir. Budi Utomo Kukuh Widodo, kepala SAC-ITS. Keduanya memberi paparan dan trik-trik untuk lolos dalam penyaringan pekerjaan.

Setelah Ir.Djaelani memaparkan kiat-kiatnya, ganti giliran Ir. Budi Utomo KW yang berbicara. Pria yang biasa dipanggil Pak Item ini mengevaluasi hasil interview yang telah diadakan beberapa perusahaan sehari sebelumnya. Menurutnya, ada beberapa kekurangan yang dimiliki kebanyakan aplikan. Kekurangan itu diantaranya low self confidence, kurang terbuka, masalah ketepatan bernalar, hingga masalah penampilan.

Menyinggung masalah penampilan, Pak Item berkomentar kalau pelamar dari ITS pasti bau. Ini berkaitan dengan keengganan aplikan untuk peduli dengan penampilannya."Sudah datangnya telat, badannya bau kecut lagi!" kritik dosen pengajar Teknik Mesin ITS ini. Sontak, kritikan itu disambut dengan senyum kecut hadirin yang sebagian besar melamar dalam bursa kerja ini.

Di akhir sesi, peserta seminar diberikan kesempatan bertanya. Ada empat orang penanya dalam sesi itu. Satu diantaranya bernama Gunawan, lulusan Teknik Kimia ITS. Pria lulusan tahun 2001 berpendapat kalau selama ini SAC-ITS hanya dijadikan lembaga penyortir Indeks Prestasi (IP)."Saya dan rekan-rekan seangkatan kecewa, masak kami harus bersaing dengan angkatan 1998 yang secara teknis nilai IP-nya lebih baik," keluh pria yang masuk ITS pada tahun 1996 ini.

Tuduhan SAC-ITS hanya sebagai lembaga penyortir IP ditampik oleh Pak Item."Kami juga sering menolak permintaan perusahaan yang mencari lulusan dengan kualifikasi IP 3.00," ujarnya. Menurutnya, dengan kualifikasi itu maka sedikit yang lolos seleksi. "Kalau IP Anda kurang dari 2.80 terus tidak lolos, saya pikir itu adalah kebijakan perusahaan," tambah pria berkulit gelap ini. "Jika tetap diloloskan (IP kurang dari 2.80, red.) berarti perusahaan kewalahan menyortir," jawab Pak Item. (adi/har)

Berita Terkait