ITS News

Sabtu, 01 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Nugroho : "BEM yang selama ini ada ternyata kurang dirasakan manfaatnya bagi mahasiswa.&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Saya dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 22 tahun yang lalu. Tak disangka, di Kampus Perjuangan ini Allah swt mentakdirkan saya untuk kuliah. Satu pesan dari Ayah saat itu. Ia berkata bahwa akan sangat rugi kalau saya di kampus ini hanya mengerjakan kuliah saja. Ia pun menekankan pentingnya berorganisasi, satu hal yang Insya Allah sejalan pula dengan minat saya saat itu.

Tidak lama kemudian, saya mulai melirik ke Institut. Saya mendaftarkan diri dalam rekrutmen terbuka OC Kongres III.Dan pada BEM periode berikutnya saya duduk sebagai Kepala Biro Hubungan Antar Lembaga Struktural (HALS) dalam Departemen Dalam Negeri .

Saat itulah, idealisme saya muncul diiringi sekian banyak ketidakpuasan atas sistem yang selama ini ada. LKMM Tingkat Menengah ITS tahun 2000 saya ikuti. Di sela-sela itu, momen Bakti Kampus ITS 2000 hadir dan menjadi Steering Committee. Jabatan Koordinator SC sementara BK ITS 2000 sempat saya emban selama kurang lebih 2 bulan, sebelum akhirnya diselenggarakan pemilihan ulang dan saya menyatakan tidak bersedia.

Kondisi Laboratorium yang relatif minim konflik ( memang seharusnya seperti itu ) menantang saya untuk kembali merambah dunia kemahasiswaan BEM ITS. Disertai dukungan dari orang-orang yang selama ini sevisi dengan saya tentang perlunya sebuah perubahan di kampus, pencalonan menjadi Presiden BEM ITS keempat mewarnai hidup saya hingga akhirnya saya terpilih.

Bahwa BEM yang selama ini ada ternyata kurang dirasakan manfaatnya bagi mahasiswa secara umum, itu merupakan suatu kondisi yang tidak terpungkiri. Itu menjadikan sebuah tantangan positif di depan mata. Bagaimana pun dengan sekian juta dana mengalir dari kantong seluruh mahasiswa dan mahasiswi ITS pengembalian kepada mereka juga menjadi sebuah kewajiban. Namun sekali lagi – itu tidak dapat tercapai hanya dengan usaha sepihak dari BEM semata.

Satu hal yang saya persiapkan untuk mengakomodir kurang dekatnya BEM dengan mahasiswa adalah ketidakmampuan BEM selama ini menjangkau sisi-sisi yang sangat erat pada semua mahasiswa : Akademis. Dan arahan selama ini memang banyak ke PSDM atau Sosial Politik. Berawal dari sana, diiringi diskusi dan konsultasi dengan beberapa 'tetua' BEM terbentuklah departemen baru yakni Departemen Iptek.

Gambaran saya, ke depannya BEM ITS bukanlah suatu wadah yang dikhususkan bagi aktifis organisasi belaka. Namun lebih jauhnya, kalangan profesional umum juga dapat mengalami nikmatnya berorganisasi di BEM, maupun mendapatkan sekian banyak manfaat BEM. Karena bagaimana pun, ITS sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Indonesia juga tidak akan dapat melupakan potensi keilmuan yang dimiliki mahasiswanya. Artinya pemenuhan akademik, soft-skill, dan kepekaan sosial harus dilakukan oleh BEM disertai dengan kebutuhan akan sense kewirausahaan. Itulah cita-cita saya terhadap ITS yang diimplementasikan dalam sebuah lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa ITS.

Ke depannya, saya pun bercita-cita untuk meniti hidup di jalan yang tidak jauh dari keilmuan saya tanpa melupakan berbagai pengalaman dan keahlian di bidang soft-skill. Artinya, semuanya harus dapat jalan bersama-sama. Tidak saling meniadakan maupun saling menegasikan. Dan saya termasuk orang yang berpendapat bahwa segala macam upaya kita tidak akan dapat terarah tanpa adanya rambu-rambu yang merupakan kebenaran individu setiap insan. Insya Allah, saya akan tetap memberikan porsi besar terhadap pengembangan potensi kerohanian yang dimiliki segenap manusia. Termasuk diri saya sendiri.(blh/rom/sa)

Berita Terkait