ITS News

Sabtu, 26 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Menumbuhkan Budaya Menulis

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Menulis merupakan hal yang mudah kita kerjakan. Tapi, kita sering meremehkan hal yang satu ini. Budaya menulis masih perlu dikembangkan. Untuk itu, kemarin (1/12) JMMI-ITS, mengadakan seminar sehari yang membahas tentang penulisan.

Seminar yang mempunyai tema 'Menumbuhkembangkan Budaya Menulis di Kalangan Intelektual Muslim' ini, diadakan di Theater PENS ITS. Peserta yang hadir dalam acara ini bukan hanya dari ITS, melainkan banyak diantaranya dari universitas-universitas di Jawa Timur. Bahkan dari kalangan umumpun banyak yang mengikutinya. "Saya masih kurang dalam belajar menulis ini," ujar Agung, alumni Fisip Unair. Kebanyakan dari peserta, memang tertarik dengan bidang jurnalistik ini. Theater PENS ini pun terlihat hampir terpenuhi kapasitas isinya. "Kurang lebih 100 peserta yang datang," ujar salah satu panitia kegiatan.

Sebagai pembicara yaitu Afifah Afra Amatullah dan Pimpinan Redaksi Jawa Pos, Dhimam Abror. Sayangnya, Dhimam Abror tdak bisa menghadiri acara ini. "Sebetulnya, sebelum acara kita sudah kontak, dan beliau menyanggupi. Waktu acara, saya kontak lagi, katanya beliau masih ada keperluan," ujar Yamani, selaku ketua panitia. "Sebagai gantinya, beliau mengutus Pak Maksum (Redaktur Jawa Pos, red) untuk mengisi acara", lanjutnya.

Sebagai pembicara pertama, Afifah Afra Amatullah, menjelaskan secara umum pengenai cara penulisan. "Menulis itu mudah," jelasnya. Menurutnya, kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan. Setelah itu, harus rasional dalam merevisinya. Dalam kesempatan ini, beliau juga menjelaskan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menulis. Menurutnya, untuk memulai menulis, harus diperhatikan manajemen ide, pengemasan ide, dan emosinya.

Tak kalah menarik apa yang disampaikan oleh Maksum, sebagai wartawan senior di Jawa Pos, beliau menjelaskan panjang lebar mengenai cara penulisan. Beliau lebih menspesifikkan tema yang dibawanya, lebih menjelaskan bagaimana menulis di koran. Banyak tips-tips yang disampaikan, untuk dapat menulis di koran. Menurutnya, menulis haruslah berdasarkan kesukaan dan mempunyai minat untuk memasarkan ide. Bukan hanya itu, untuk menghasilkan tulisan yang bermutu, disarankan sering membaca tulisan-tulisan orang yang biasa menulis. Dalam kesempatan ini pula, beliau menceritakan bagaimana kehidupan wartawan. "Wartawan bukan pekerjaan kantor yang mengenal hari libur, kita ngak jelas hari liburnya. Fisiknya harus kuat." terang beliau.

Dalam acara ini pula, hadir Nasyid Suara Persaudaraan. Ini membuat acara begitu menarik. Suara Persaudaraan mengisi lagu-lagu islami disela-sela kegiatan berlangsung. Nasyid yang berasal dari kota dingin Malang ini, tampil sangat mengesankan. Diselingi dengan banyolan-banyolan segar, membuat suasana semakin akrab. Di akhir acara, mereka melantunkan syair yang mengingatkan akan adanya kematian, ini membuat suasana berubah menjadi haru. Umumnya peserta senang telah mengikuti acara ini. (akh/bch)

Berita Terkait