ITS News

Selasa, 29 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Menristek ;"Tentu saja,bukan pemerintah semata-mata,&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia cukup besar. Mulai hasil pertambangan minyak bumi sampai dengan batu bara. Namun, kekayaan alam itu diprediksi akan habis sekitar 10 tahun mendatang. Kalau ini tidak diantisipasi dengan berbagai inovasi penganti. Niscaya, kemungkinan tersebut benar-benar akan terjadi.

Permasalahan inilah, yang diungkapkan oleh Menristek, Ir.M.Hatta Rajasa, dalam ceramah ilmiah ‘Kebijaksaan Riset Nasional dan Peran Perguruan Tinggi menuju Kemandirian Bangsa’.Kegiatan yang diadakan oleh Lembaga Penelitian ITS ini,Senin kemarin (12/5).

Selama ini, lanjut sekjen DPP-PAN ini, ada dua perangkap teknologi telah menjebak Indonesia saat ini. Pertama, jebakan teknologi secara langsung, jebakan ini seperti yang terjadi pada embargo pada perangkat teknologi impor. Kedua, jebakan teknologi tidak langsung, perangkap teknologi yang diciptakan di dalam negeri sendiri, tetapi tidak dapat bersaing dengan teknologi negara lain."Contohnya, pada industri gula kita. Kita ini bisa memproduksi gula namun tidak memiliki nilai kompetitif, akibatnya kita tidak bisa berdaya bersaing dengan negara lain,"jelasnya.

Menyadari itu, pemerintah berusaha membuat peraturan tentang iptek itu. Agar menjadi jelas dan tegas arahnya. Ini terangkum dalam Pasal 31 ayat 5 Amademen ke-4 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 bahwa :Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjujung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan serta kesejahteraan umat manusia.

Lantas, siapa penanggung jawabnya ?, "Tentu saja,bukan pemerintah semata-mata, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat,"ujar mantan anggota MPR ini.Ini terdapat pada Undang-Undang No.18/2002, yang isinya badan usaha hendaknya mengalokasikan sebagaian pendapatanya untuk meningkatan kemampuan perekayasaan, inovasi dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produk dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan.

"Ini sudah kita wujudkan dengan mengelar Rakornas antara para pengusaha, pemerintah daerah, dan pimpinan instansi pendidikan.Dan kita telah berhasil memberikan penjelasan kepada mereka (pengusaha dan pemerintah daerah,red) agar bersedia investasi di perguruan tinggi. Walaupun untuk investasi ini memerlukan waktu yang lama,"terang pria yang pernah menjadi ketua Fraksi Partai Reformasi DPR ini

Memang, untuk membangun suatu peradaban suatu bangsa tidak hanya berpedoman pada permasalahan ekonomi saja. Melainkan juga pada sumber daya manusianya juga. Dan kampus memiliki keunggulan dalam hal ini."Kampus sebagai pusat pengembangan inovasi yang harus menyadari,.bahwa mereka merupakan basis insan-insan, yang harus memiliki jiwa kewirausahan,"tutur Hatta.

Karena tujuan daripada negara, antara lain mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Jadi kalau dulu ada teknologi tinggi dan teknologi rendah, itu semua pemikiran yang keliru. Teknologi hanya bermuara pada tujuan nasional saja. Dan saat ini prioritasnya ;pangan, energi, kelautan, kedirgantaran dan Bioteknologi,"katanya

Akhirnya, bukan sekrang bukan untuk membedakan antara kampus yang satu dengan kampus yang lainnya. Malahan yang diperlu adanya jaringan antara kampus untuk membangun kemandirian bangsa itu ."Saya tetap berkomitmen terhadap ITS untuk mengembangkan program-program Hak Kekayaan Intelektual, dengan menawarkan program ‘start up capital’,"tegasnya.(rom)

Berita Terkait