ITS News

Sabtu, 02 Juli 2022
15 Maret 2005, 12:03

Menristek Bikin Kejutan di ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

SURABAYA – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Hatta Radjasa, kemarin bikin kejutan di kampus ITS. Di hadapan 30 peserta Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) yang berlaga di ITS, dia berjanji akan menanggung seluruh biaya pengurusan hak paten semua hasil karya peserta tersebut.

Tidak hanya karya peserta LCEN yang akan dipatenkan. "Semua hasil karya mahasiswa, berapa pun jumlahnya, pembiayaan hak patennya akan dibiayai Menristek," ujar Hatta kepada sejumlah wartawan, kemarin.

Janji Hatta ini merespon kegalauan sejumlah peserta LCEN yang khawatir hasil karyanya dibajak. Kasus semacam ini sering terjadi saat ada even pameran teknologi. Apalagi, sejumlah perusahaan industri biasanya sengaja mendatangi pameran dan mencuri ide dari karya mahasiswa itu.

LCEN di ITS ini diikuti 30 finalis dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Ada tiga kategori, di antaranya kategori elektroteknik dasar, teknik biomedika dan telematika. Khusus elektoteknik dasar, diikuti oleh siswa SLTP dan SMU.

Beberapa karya finalis cukup menakjubkan. Ada jam digital untuk tuna netra (karya mahasiswa UGM), stetoskop visualizer (karya mahasiswa ITS), pemanfaatan mikrokontroler sebagai media komunikasi tuna rungu (karya siswa SLTP Petra 3), dan lain sebagainya. Mulai hari ini hingga 15 Mei 2003, satu per satu peserta akan mempresentasikan karyanya di depan dewan juri. Seluruh rangkaian acara ini akan ditutup pada 16 Mei 2003.

Selain itu, akan juga digelar pameran teknologi elektroteknik dari berbagai perguruan tinggi dan perusahaan di Surabaya. PT Telkom misalnya, memamerkan produk barunya SMS via telepon rumah. Di stan itu juga diberikan layanan telepon SLI gratis selama pameran.

Di stan Universitas Widya Mandala, dipamerkan suspensi magnetik yang biasa digunakan untuk kereta magnetik di Jepang. Alat ini menggunakan besi beton sebagai medan magnetnya dan alumunium yang diibaratkan gerbong kereta api. "Kalau kereta memakai sistem ini, lajunya lebih cepat dan tidak perlu pakai roda, sehingga lebih tenang karena tidak ada gesekan," ujar Lutfi Adi Wijaya, mahasiswa elektro UWM semester akhir, yang membuat alat ini.(tom)

Berita Terkait