ITS News

Selasa, 29 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Menjalin Ukhuwah dengan Supercamp

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Majulah wahai mujahid muda
Dalam satu iman, tegakkan keadilan
Singkirkan batas, satukan kata
Kebangkitan Islam telah tiba"

Demikian bait-bait nasyid Izzatul Islam yang didendangkan oleh pemandu Supercamp mengawali keberangkatan peserta Supercamp dalam acara hiking di Kebun Raya Poerwodadi. Ada nuansa yang menggelora dalam hati yang menjadikan langkah-langkah kaki semakin ringan diatas beban yang semakin memberati pundak. Hiking merupakan acara penutup dari rangkaian Supercamp yang diadakan di Kebun Raya Poerwodadi, 2-3 Maret 2002.

Supercamp merupakan acara alternatif yang dimodifikasi dari acara penyambutan mahasiswa baru muslim. Biasanya acara penyambutan mahasiswa baru muslim berupa Studi Islam Intensif (SII), bila di Teknik Lingkungan ataupun KKI, bila di Statistika. "Kami melihat SII maupun KKI kurang terfokus pada satu tujuan", jelas Arief, salah seorang pemandu. Lebih lanjut, supercamp merupakan wadah untuk menjalin ukhuwah (persaudaraan) dan membuat jaringan dakwah. Oleh karena itu, kegiatan ini lebih difokuskan pada bagaimana membangun komunikasi dan kerjasama yang baik dalam tim.

Hampir semua materi kegiatan dalam bentuk workshop. "Kami memang sengaja men-set kegiatan ini lain dari yang lain dengan tujuan untuk merubah image camp yang seram selama ini", terang Ali salah seorang pemandu. Total workshop yang diterapkan ada 10 macam meliputi perkenalan, komunikasi, kepercayaan, dan kerjasama.

Salah satu workshop yang cukup menegangkan adalah Water Battle. Dimana dalam workshop ini para peserta melakukan perang-perangan di malam hari. Biar aman, amunisinya diganti dengan air yang diisikan pada kantong plastik. Aturannya demikian, setiap anggota yang menembak dan kena harus mengucapkan "Allahu Akbar", sedangkan yang kena tembakan harus berteriak "Syahid". Targetnya adalah merebut bendera lawan.

Suasananya mirip di garis depan medan peperangan. Tak ada penerangan, kecuali lampu ting di area tawanan dan sesekali sorotan lampu senter pemandu yang meneliti lokasi. Sinar bulan pun tak mampu menembus rimbunnya pepohonan Kebun Raya Poerwodadi. Meskipun bulan baru menunjukkan tanggal 20 bulan Islam. Suasana benar-benar gelap dan mencekam.

Walaupun hanya berlangsung 1 jam, para peserta nampak sangat antusias. "Sayang saya tertembak duluan, coba kalau bisa dihidupkan lagi, seperti buah catur", kata Fauzi, salah seorang peserta. Hal senada diungkapkan Tunjung yang tertembak terlebih dahulu karena dikepung oleh tiga orang musuh.

Sayangnya, kegiatan ini hanya dikuti oleh sekitar 30-an orang mahasiswa dari Jurusan Teknik Lingkungan dan Statistika. "Sebenarnya banyak yang mau ikut, seperti Kajian Jurusan Kimia dan Perkapalan. Tapi karena waktu pelaksanaan mepet, maka mereka memutuskan untuk tidak bergabung", jelas Edi Lianto, Ketua Forum Studi Islam (FSI) Teknik Lingkungan. Mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 98 ini berharap semoga tahun depan kegiatan ini dapat diikuti oleh lebih banyak peserta.
(rif)

Berita Terkait