ITS News

Jumat, 12 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Mendesak Revitalisasi Peran Inkubator Bisnis UKM

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Demikian diungkapkan Manager Surabaya Business Incubator Centre (SBIC) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Dr Ir Djoko Sungkono Kawano M.Eng.Sc, dalam Workshop Pengembangan Inkubator Bisnis yang diselenggarakan di Rektorat ITS, Senin (13/12) siang.

"Kami berharap melalui workshop ini akan membuat inkubator lebih aplikatif sekaligus untuk mengevaluasi sistem kerja penyelenggaran inkubator yang selama hampir empat tahun terakhir ini tidak memiliki kegiatan atau vakum," katanya. ITS sendiri yang memiliki 42 UKM di bawah binaan SBIC dimana 9 diantaranya memiliki kegiatan langsung di bawah pengawasan SBIC, dirasakan berjalan amat lamban. "Kami menyadari ini, karena itu melalui workshop dengan mengundang beberapa UKM dari Pemkab dan Pemkot di Jatim, diharapkan akan muncul semangat baru untuk melakukan unjuk kerja," katanya.

Djoko mengungkapkan, selama ini memang ada empat kementerian yang melakukan pembinaan untuk UKM, tetapi mereka seolah tidak saling berkoordinasi, sehingga sering terjadi tumpang tindih kegiatan. "Kami melihat perhatian pemerintah cukup besar untuk UKM, tapi itu hanya dilakukan sesaat, tidak kontinyu," katanya.

Meraih Laba
Sebelumnya Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya Kementerian Koperasi dan UKM, Noer Soetrisno, mengatakan, inkubator dirancang untuk membantu usaha baru dan sedang berkembang, sehingga mapan dan mampu meraih laba dengan menyediakan informasi, konsultasi, jasa-jasa dan dukungan lainnya. "Itulah sebabnya inkubator memang harus dikelola dengan space, share, services, support, skill development, seed capital, dan synergy atau yang lebih dikenal dengan sebutan 7 S," katanya.

Kenapa UKM Indonesia membutuhkan inkubator, kata Soetrisno bernada tanya, itu karena tuntutan dalam era globalisasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha makin penting. "Inkubator diharapkan dapat berperan menumbuhkan UKM yang berwawasan Iptek. Perguruan tinggi sebagai centre of excellence diharapkan pula untuk menjadi pelopor pengembangan inkubator," katanya.

Soetrisno mengatakan, permasalahan inkubator di Indonesia relatif tidak terasakan kehadirannya antara lain karena, keterbatasan penyediaan fasilitas operasional khususnya bagi in-wall tenants, kurangnya dukungan modal awal (seed capital), dan komitmen dan dukungan pemerintah yang relatif kurang.

Sementara Rektor ITS Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA dalam sambutan pembukaannya mengatakan, perguruan tinggi punya peran amat penting didalam membuat inkobator dapat melahirkan pengusaha-pengusaha kecil yang tangguh. Sedikitnya ada empat hal yang harus dilakukan inkobator untuk melahirkan UKM tangguh. Pertama, harus jelas dulu jenis usaha yang hendak masuk atau dibina, kedua, perlunya pasokan energi atau dalam hal ini bantuan modal kerja, ketiga, berupaya melakukan perbaikan dari proses yang harus dilakukan oleh UKM, dan keempat, berusaha membangun sinergi untuk bisa dipasarkan.

"Empat hal ini akan menjadikan inkubator benar-benar bisa memberikan kehangatan, sehingga akan menetaskan UKM-UKM yang tangguh, karena pada dasarnya inukbator disiapkan memang untuk menyiapkan UKM dapat benar-benar mandiri dan mampu bersaing," katanya. (Humas/bch)

Berita Terkait