ITS News

Senin, 17 Juni 2024
15 Maret 2005, 12:03

Membahas Filsafat tentang Hakikat Manusia

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Filsafat tak harus dibahas secara rumit. Misalnya dalam buku "Filsafat Manusia" karangan KH Miftahul Lutfi Muhammad ini. Senin (31/1), buku karangan pengasuh Pondok Pesantren Tambak Bening Surabaya ini dibahas di Masjid Manarul Ilmi. Buku yang baru saja diluncurkan ini berisi filsafat tentang hakikat manusia menurut ajaran Islam.

Sebagai pembicara dalam bedah buku ini adalah dosen Fisika MIPA Agus Purwanto, Redi Panuju, dan budayawan asal Madura D Zawawi Imron. Bedah buku ini juga dihadiri langsung oleh sang pengarang. Namun Gus Lutfi, demikian sang pengarang biasa dipanggil, hanya menjadi pendengar dan tidak ikut menjadi pembicara.

Redi Panuju memuji buku karangan Gus Lutfi ini. "Buku ini memang tidak terlalu dalam mengupas filsafat namun cukup menyentuh." Menurut Redi saat ini terjadi salah kaprah tentang filsafat. Umumnya orang menganggap bahwa filsafat itu membahas sesuatu yang mudah menjadi rumit. "Padahal sebenarnya filsafat itu dimaksudkan untuk mencari makna yang lebih hakiki dari sesuatu.

"Hati seseorang memang bisa tersentuh dengan banyak cara. Kalau saya setelah membaca buku karangan Gus Lutfi ini sedikit banyak tersentuh. Kalau dulunya agak sekuler insya Allah sudah mulai Islami," terangnya.

Sementara itu, Agus Purwanto mengatakan bahwa filsafat Islam mengalami penurunan sejak Imam Ghazali mengarang kitab Thafut yang mencela filsafat. Hal ini tak lepas dari lemahnya budaya menulis dalam masyarakat. "Budaya menulis di kalangan kita memang masih lemah. Sebab budaya membaca yang menjadi dasar menulis itu sendiri masih lemah. Yang kuat dalam masyarakat kita justru budaya oral, atau biasa disebut lisan," terang dosen yang aktif di Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam ini.

Sementara itu budayawan kondang Zawawi Imron banyak menyoroti buku ini tentang hakikat manusia. Penyair ini juga menyebut buku ini kebangkitan budaya menulis di pesantren. Menurut Zawawi, sebenarnya budaya menulis di pesantren ini sudah berakar sejak lama.

"Di Venezia, Italia ditemukan sebuah catatan pada abad ke-15 yang berasal dari Indonesia. Catatan yang ditulis pada daun lontar itu ternyata karangan Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo. Catatan ini berupa ringkasan kitab Imam Ghazali dalam bahasa Jawa," terangnya. "Sayangnya kemudian budaya menulis di pesantren ini mulai luntur," lanjutnya.

Ia juga memuji tentang langkah yang dilakukan oleh Gus Lutfi untuk memajukan budaya menulis di pesantren. "Kalau santrinya Gus Lutfi mau nikah, maka ia diwajibkan mengarang buku yang layak cetak," terang Zawawi.

Diskusi ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian bedah buku "Filsafat Manusia." Sebelum digelar di Manarul Ilmi, acara serupa juga telah di adakan di toko buku Toga Mas dan Masjid IAIN Surabaya. (rif/tov)

Berita Terkait