ITS News

Selasa, 29 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Memaknai cinta

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Cinta kedengarannya begitu melankolis, sentimentil, puitis sekaligus dramatis. Ketiganya sering menjadi suatu adonan yang runyam, sehingga kehadirannya tidak bisa dijelaskan oleh bahasa apapun. Maka, ungkapan bahwa cinta itu adalah misteri, merupakan ungkapan yang klise dari ketidakmampuan kita untuk menerangkan secara alamiah.

Untuk mengupas lebih detailnya, UKM Penalaran ITS mengemas hal tesebut dalam bedah buku "Cinta dan Keterasingan" buah karya Khoirul Rosyidi (dosen Filsafat Unair).Beliau juga didampingi oleh Dra. Lubna Algadrie, sebagai pembedah. Kegaiatan ini mampu menyedot sejumlah 25 peserta perwakilan dari setiap jurusan di ITS.

Menurutnya, semakin maju peradapan manusia maka juga makin besar aliensi atau keterasingan diri manusia itu sering terjadi. Manusia yang lebih maju intelektualnya makin besar mengeksploitasi seseorang yang lebih rendah."Keterasingan atau aliensi itu sendiri adalah suatu tindakan untuk melakukan transformasi kekayaan manusia, tindakan di luar manusia dan mengaturnya," tutur dosen Filsafat Unair ini.

Sedangkan, antara cinta dan benci itu bedanya sangat tipis sekali serti kulit bawang. Kita tidak bisa mengklasifikasikan dimana kebencian dan dalam ruang mana cinta itu berada, keduanya telah bergerumul sempurna."Seringkali kita merasakan bahwa cinta dan benci selalu hadir bersamaan," tutur yang mengaku sebagai dosen wanita pertama di FMIPA ini.

"Cinta itu tidak selalu diakhiri dengan seksualitas bila ditinjau dari AGP daripada humanisme yang kearah seksualitas," ujar Lubna A, dimana kita meninjau cinta dari segi psikologi ditekankan untuk lebih memaknai cinta dengan memelihara dan menjaga keutuhan cintadengan sebaik-baiknya, tegas dosen bahasa Inggris. (mut/rom)

Berita Terkait

ITS Media Center > Berita Utama > Memaknai cinta