ITS News

Rabu, 05 Agustus 2020
15 Maret 2005, 12:03

Marlin, "Kesabaran kunci saya.&quot

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Berikut wawancara reporter ITS Online, Agustin Rachmawati dalam gaya bertutur.

"Awal saya berjualan sama saja dengan bagaimana ITS masa dahulu, dengan alang – alang, rumput yang tinggi menjulang dan rawa – rawa disana sini," kata Marlin (35) sambil tersenyum. "Saya bicara seperti itu karena menyangkut cerita bagaimana sampai berjualan disini," tambahnya.

"Saya mulai berjualan sejak tahun 1984, waktu itu karena saya ingin memperbaiki hidup dan belajar mandiri," tutur pria kelahiran Sragen 28 Desember 1967 ini yang begitu pertama datang di Surabaya, langsung tinggal di tempat kakaknya di daerah Gebang dan membantu berjualan bakso.

"Baru tahun 1985, saya mulai mulai berjualan bakso sendiri, dimulai dengan berkeliling di perumahan ITS. Waktu itu saya masih ikut juragan bakso, jadi belum benar – benar rombong bakso saya sendiri," lanjutnya.

Beberapa bulan sejak tahun 1985 itulah Sekitar pukul 12 siang Marlin mulai mangkal di tempat yang sekarang menjadi lokasi parkir BAAK. "Yah sekedar tempat mangkal saja untuk sebentar, karena waktu itu saat karyawan MKDU FMIPA istirahat," kata Marlin yang masih tetap berjualan keliling perumahan ITS setelah jam istirahat karyawan usai. "Baru tahun 1987 saya diperbolehkan untuk masuk ke lokasi yang menjadi tempat MKDU sekarang," kenangnya.

Tempat berjualan yang sepi, penuh dengan rawa – rawa, alang – alang dan rumput yang tinggi menjulang ini tidak menyurutkan langkah marlin untuk berjualan di sana. "Saya sabar saja, tetapi ternyata hasil yang saya dapat lumayan. Dalam satu hari terjual 3 sampai 10 mangkok," tuturnya. Dari saat lokasi tersebut menjadi tempat lokasi tetap sambil terus berkeliling selama tiga tahun sampai tahun 1988. "Saya lakukan ini semua dengan harapan saya dapat mempunyai rombong bakso sendiri, jadi semua itu saya tekuni untuk dapat menabung beli alat – alat dan bahan – bahan".

Karena tekad dan dana bantuan dari istri yang dijumlah sekitar Rp. 100.000,00, akhirnya tahun 1990 Marlin dapat mempunyai rombong bakso sendiri. "Yah itulah Mbak, karena kesabaran dan keuletan, padahal uang hasil jualan bakso apabila mencukupi untuk keluara saya sudah cukup membuat saya senang," kata Marlin yang menikah dengan Sukirah tahun 1989.

Tahun 1992–1993 barulah Marlin berlokasi secara permanen di tangga bawah MKDU dan dengan perlahan–lahan memperbaiki tempat berjualan. Sedikit – demi sedikit tempat tersebut diurug dengan kerikil dan pasir. "Semuanya itu saya lakukan sampai dengan tahun 1995," jawab pria yang saat ini tinggal di rumah kontrakan di Sutorejo Laban Sari 3 C, Surabaya.

Bapak dua putra ini Eko Prasetyo (10)dan Dwi Laksono (5) ini mempunyai cita – cita luhur. "Saya ini pendidikan tidak lulus SD. Hanya bisa baca, ngitung dan nulis sudah cukup. Cita – cita saya, anak – anak saya jangan samapai seperti saya, yah harus bisa melebihi saya," katanya berharap. "Jika ditanya apakah saya puas dengan keadaan saya sekarang, menjadi penjual bakso. saya cukup puas dan saya menerima semuanya dengan sabar".

Sistem yang dipakai di ‘depot’ swalayan miliknya adalah kepercayaan, karena pembeli langsung mengambil sendiri bakso yang diinginkan. Baru setelah setelah selesai makan ditanya apa yang diambil waktu membayar. Sukses buat Pak Marlin.(tin/li)

Berita Terkait