ITS News

Rabu, 05 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

MAHASISWA ITS MENJAWAB TANTANGAN ?

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Tidak ada zaman yang tidak bergulir. Perkembangan dan perubahan adalah suatu hal yang lazim. Namun siapkah kita menghadapi perubahan jaman ? Diakhir era ini perkembangan yang terjadi menjadi sangat pesat. Dahulu telpon adalah hal yang ekslusif bagi beberapa kalangan, tetapi saat ini handphone sudah merupakan barang yang mudah ditemui. Saat ini perdagangan duniapun juga lebih terbuka. Adanya area perserikatan perdaganganpun sudah bermunculan. Malaysia membeli produk Indonesia dengan harga yang tidak terlalu jauh berbeda adalah fenomena yang biasa. Perekrutan tenaga kerja dapat dilakukan dengan mudah walaupun dari negara lain. Dan yang patut diwaspadai adalah kemampuan tenaga kerja Indonesia untuk berkompetisi dengan pekerja luar negeri.Terutama mahasiswa ITS yang dapat dikatakan sebagai pemuda-pemudi pilihan Indonesia. "Sudah siapkah kita ?"

Sering kali dilontarkan oleh para alumni, pihak dari perusahaan maupun orang-orang yang melakukan penelitian terhadap kinerja lulusan ITS. Dalam penelitian tersebut ditunjukkan mahasiswa ITS dalam bekerja, memiliki kemampuan penyelesaian yang baik.

Tetapi yang harus digaris bawahi adalah ketidakmampuan lulusan ITS untuk mengkomunikasikan idenya dalam tiap rapat atau berserah diri atas apa yang diberikan kepadanya. Dalam istilah lain kebanyakan lulusan ITS memiliki sifat "diam dan menerima apa adanya". Kemampuan komunikasi merupakan hal yang harus dimiliki dilingkungan kerja jika orang tersebut ingin berkembang. Bagaimana kemampuan ini dikembangkan ?

Kemampuan yang dimiliki oleh manusia secara umum dapat disamakan dengan fenomena gunung es (Ice Berg). Yang tampak diluar permukaan air adalah kemampuan Hard Skill. Ini artinya kemampuan yang berkaitan dengan intelektual seperti ketepatan menghitung, kepintaran dan lainnya. Sedangkan kemampuan yang tidak nampak atau digambarkan dengan kemampuan didalam permukaan air memiliki porsi yang paling besar. Dan kemampuan ini sering kali tidak tergarap dengan benar. Kemampuan ini sering kali diberi nama kemampuan Soft Skill dan berhubungan dengan emosi manusia.

Kemampuan komunikasi adalah bagian dari kecerdasan emosi. Didalamnya juga terdapat kemampuan memimpin, bekerja sama, menghargai orang lain dan sifat-sifat lain yang berkaitan dengan emosi. Mahasiswa ITS adalah kaum intelektual muda. Oleh karena itu dalam perjalanan hidupnya, penanaman untuk belajar dan mengasah pikiran merupakan hal mendasar yang terus ditancapkan bahkan dimulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga. Apakah hal ini salah ? Tidak, karena kondisi yang memaksa untuk ber buat demikian. Jadi akan sangat sulit untuk menyadarkan mahasiswa ITS untuk menyadarkan akan pentingnya bersosialisasi, bekerja sama dalam tim atau kesiapan menghadapi perubahan. Tetapi selalu ada kesempatan untuk mengasah hal ini. Cobalah untuk ikut dalam berbagai aktifitas. Baik itu organisasi, olah raga, kesenian dan penalaran. Karena kecerdasan manusia memiliki pengertian yang luas. Kecerdasan dapat berupa kecerdasan olah raga, kecerdasan seni, kecerdasana interpersonal, kecerdasan intelektual dan lain-lainnya. Susi Susanti adalah atlit yang pandai dibidang olah raga. Reza adalah artis yang cerdas dibidang tarik suara. Yang terpenting didalam beraktifitas, kemampuan kita diluar kuliah akan diasah. Dan kemampuan ini harus diasah melalui proses, tidak dapat dibentuk dalam waktu semalam.

Kemampuan soft skill ternyata tidak hanya digunakan didalam bekerja. Tetapi juga digunakan untuk persiapan kita bermasyarakat. Saat kita masuk kedalam masyarakat,maka kemampuan kita untuk bertenggang rasa, beradaptasi, kemampuan mendengar sampai pada kemampuan mengkritik akan banyak diuji.

Kehidupan kampus adalah salah satu miniatur masyarakat dan merupakan kesempatan terakhir kita untuk belajar sebelum memasuki dunia yang sesungguhnya. Dinamisasi yang terjadi didalamnya, dapat menjadi salah satu bekal kita untuk menghadapi kehidupan nyata yang jauh lebih dinamis. Kata orang dunia luar "Sungguh Kejam". Pertanyaan yang sekarang terbesit adalah "Sudah siapkah kita ?"

Jaringan Alumni

Selain itu ada kelemahan lain yang mungkin tidak disadari oleh sebagian dari kita. Lemahnya hubungan dengan alumni ITS. Kita dapat menghitung sendiri sudah seberapa banyakkah alumni ITS yang hilang tak tentu kabarnya. Ada dua hal yang dapat menjadi penyebabnya. Kurang sadarnya para alumni akan pentingnya mereka dalam pembangunan jaringan. Kedua, ketidakmampuan kita untuk membina hubungan dengan para alumni.
Yang dapat kita lakukan saat ini, yaitu membina hubungan dengan para alumni. Pada umumnya pekerjaan ini kita limpahkan pada organisasi disekitar kita. Seperti BEM, himpunan dan lainnya. Tetapi satu yang harus kita sadari bersama, jaringan alumni ini akan sangat membantu kita secara pribadi saat memasuki dunia nyata. Oleh karena itu tanggung jawab ini seharusnya juga berlaku untuk kita pribadi. Karena para alumni ini yang akan memberi kita informasi tentang dunia luar, baik itu lingkungan pekerjaan maupun persiapan memasuki dunia kerja. Bila kita tidak membinanya maka kita akan melewatkan banyak informasi yang berguna.
Memang banyak yang harus kita lakukan. Tetapi tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, hal yang kecil dan detik ini.

Oleh
Airlangga Prima Satria
Ketua Legislatif Mahasiswa ITS

Berita Terkait