ITS News

Rabu, 05 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Lulus Tercepat dan Cum Laude di ITS Dipegang Perempuan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Ini terbukti tiga dari empat mahasiswa Program S-1 yang berhasil menyelesaikan masa studi paling cepat (tujuh semester) dan memperoleh predikat kelulusan cum laude, dipegang oleh perempuan.

Ketiga perempuan itu masing-masing Windi Ayu Agsutin, Manama Murtiningsih, dan Melissa Ariani Yahya (fot), sedang seorang laki-laki Yohanes Wijoyo. Mereka tercatat sebagai mahasiswa di program strata satu yang menempuh kuliah paling cepat dan mendapatkan predikat kelulusan cum laude.

Pada acara wisuda ke-88 yang akan diselenggarakan Sabtu dan Minggu (13-14 Maret 2004), sebanyak 44 mahasiswa memperoleh predikat kelulusan cum laude. Darin jumlah sebanyak itu 10 mahasiswa berasal dari program S2, 29 mahasiswa dari program S1, seorang dari program D3, dan sisanya 4 mahasiswa berasal dari program sarjana ilmu terapan atau Program D4.

Apa kata tiga srikandi itu ketika ditanya seputar kenapa mereka bisa sukses di tengah-tengah dominasi laki-laki?

"Buat saya didalam mencari ilmu dan meraih prestasi tidak ada perbedaan antara laki-laki atau perempuan. Kalau kemudian perempuan yang mendominasi waktu tercepat dan meraih cum laude, mungkin karena perempuan lebih telaten dan serius saat belajar," kata Windi Ayu Agustin, peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,59 dari Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi IndustriMenurut gadis kelahiran Malang, 28 Agsutus 1981 ini, sebenarnya kesempatan yang ada di kelas maupun saat praktikum, baik laki-laki mau pun perempuan sama saja. "Tapi mungkin karena kami yang perempuan lebih tekun saat belajar. Yang jelas saya memiliki motivasi yang sangat besar untuk bisa lebih baik dari yang lain," katanya.

Bagi Windi, ia juga boleh berbangga diri mengingat selain mendapatkan predikat cum laude, dia juga ternyata telah diterima bekerja di salah satu perusahaan pengeboran minyak milik asing — PT Thiess Contractors Indonesia– yang berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur. "Ini mungkin nasib saya yang sedang baik. Tapi saya memang berkeinginan untuk bisa segera membantu dan menyenangkan orang tua," kata anak ketiga dari tiga bersaudara, alumnus SMU 3 Malang ini, sambil menambahkan kalau dirinya telah dijanjikan mendapat gaji sebesar Rp 3,5 juta.

Hal sama juga dikemukakan rekan satu fakultas dan satu jurusan Windi, Manama Murtiningsih. Gadis kelahiran Malang, 7 Maret 1981 ini juga mengakui kalau kesempatan yang ada di ITS baik untuk laki-laki maupun perempuan, sama saja. "Tapi biasanya laki-laki itu sering menyepelekan, sehingga belajarnya pun tidak teratur. Berbeda dengan perempuan, kebanyakan mereka
lebih tekun. Dan buat saya, di tengah-tengah mahasiswa laki-laki saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu," kata anak pertama dari tiga bersaudara dari seorang pensiunan TNI ini, yang tercatat sebagai alumnus dari SMU Telkom Malang.

Pendapat serupa juga keluar dari mulut Melissa Ariani Yahya, Gadis kelahiran Ames, Iowa, Amerika Serikat, 25 Februari 1982. Menurut wisudawan dari Teknik Informatika ini, dominasi perempuan yang bisa menyelesaikan studi paling cepat dan cum laude di ITS lebih pada faktor keseriusan perempuan didalam belajar. "Belajar itu kan harus dengan startegi, dan karena perempuan lebih tekun dan telaten, maka perempuan biasanya lebih pandai didalam mengatur strategi," kata anak pertama Ir. Eddy Yahya MSc, PhD yang dosen Jurusan Fisika FMIPA ITS ini.

Bagaimana tanggapan Yohanes? "Itulah faktanya, karena memang perempuan lebih ulet dan rajin didalam belajar. jadi wajarlah jika mereka memperoleh prestasi itu," katanya pendek.

Tapi, kata laki-laki kelahiran Surabaya, 21 Januari 1982 ini menambahkan, fakta itu tidak perlu diperdebatkan, mengingat prestasi seseorang sangat tergantung bukan hanya pada kesempatan yang diberikan, tapi juga pada potensi diri yang ada pada pribadi masing-masing. "Tapi mungkin juga pada lingkungan dimana seseorang berada. Kalau mau dilihat lebih jauh, mahasiswa perempuan yang memperoleh predikat tercepat dan cum laude itu berada di lingkungan mahasiswa yang laki-lakinya labih banyak, sedang saya kebalikannya berada di lingkungan yang mahasiswa perempuannya jauh lebih banyak," kata alumnus SMU Petra 1 Surabaya ini. (Humas – ITS, 10 Maret 2004)

Berita Terkait