ITS News

Senin, 17 Juni 2024
15 Maret 2005, 12:03

LMBT 2004 : Kalau Semen Telah Jadi Beton

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Datang jauh-jauh dari Bandung, tim beton ITB harus berlapang dada. Mereka gagal masuk lima besar seleksi pertama Lomba Beton Mutu Tepat (LMBT) 2004 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITS.

Menurut Erwin, anggota tim beton ITB, kekalahan ini memang telah diperkirakan sebelumnya. "Peluang kami untuk lolos ke babak final hanya nol persen," ujar cowok berkacamata yang datang berdua dengan temannya, Yanti ini. Hal ini disebabkan karena terjadinya salah tafsir oleh timnya pada lomba bersakala nasional yang disponsori Semen Gresik ini.

Tim ITB baru menyadari satu hal terpenting setelah beton yang akan dilombakan selesai dicor dan siap diberangkatkan ke ITS. Beton yang mereka buat menggunakan standar beton mutu tinggi, padahal yang nantinya dilombakan adalah beton mutu tepat. Karena waktu mepet, akhirnya mereka berangkat ke Surabaya dengan membawa beton yang mempunyai standar deviasi terlalu tinggi itu. "Yah..mau gimana lagi, semen sudah jadi beton," kelakar Erwin menghibur diri.

Di tempat yang sama, M. Iqbal, panitia LBMT menuturkan, dari segi beton mutu tinggi, beton ITB berpeluang untuk menjadi jawara. Pada saat uji kuat tekanpun, beton dari Bandung ini mampu pecah dengan bagus. "Lihat saja pecahannya yang seperti jam pasir," tunjuk Iqbal ke sederetan beton yang telah diuji.

Namun, kembali kepada ketentuan awal bahwa yang dilombakan adalah beton mutu tepat, maka karya mahasiswa ITB ini harus rela tersingkir. "Apalagi beton mutu tinggi dengan beton mutu tepat memang berbeda," terang Ika Rahayu, panitia LBMT yang setia mengikuti rangkaian uji kuat tekan beton di laboratorium beton, teknik sipil ITS.

Untuk mutu tepat, beton harus memiliki nilai mutu sesuai ketetapan yang untuk LBMT kali ini dipatok sebesar 50 mpa. "Sedangkan untuk teknik pembuatannya dibebaskan," lanjut Ika.

Beda lagi dengan beton mutu tinggi. Dimana standar deviasi untuk mutu tinggi mencakup nilai nominal tertentu yang sengaja ditinggikan. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu.

Mengenai salah tafsir seperti yang dialami tim ITB, Ika juga turut menyesalkan hal itu. Menurutnya, setiap kriteria dan syarat-syarat LBMT telah tertera jelas di setiap brosur yang telah dikirimkan ke setiap universita dan institut. "Jadi, tinggal pemahaman kita dalam membaca petunjuknya," lanjut cewek berambut sebahu ini.(rin/ryo)

Berita Terkait