ITS News

Senin, 27 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

La tahzan versus konsep barat

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kehidupan manusia tak pernah luput dari ujian dan cobaan. Saat berada dalam posisi tersebut, muncullah kesedihan. Namun tentu kita tidak boleh larut dalam kesedihan itu. "La Tahzan" , sebuah buku karangan Dr.Ir. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, M.A yang berarti jangan bersedih ini, mengupas bagaimana agar manusia bisa mengatasi rasa sedihnya.

"Umumnya saat mengalami musibah atau ujian, manusia melakukan dua cara, yakni blamming atau menyalahkan orang lain dan excuse, mencari-cari alasan," ujar Ahmad Guntar, S.Kom, pembicara pada bedah buku yang diadakan oleh FUSI (Forum Ukhuwah dan Studi Islam) Ulul Albab Teknik Fisika ITS, Selasa (5/10) sore. Dua cara itu dilakukan, menurutnya, untuk menghibur hati yang tengah gundah.

Dalam pemikiran barat diyakini bahwa hanya otaklah yang bisa mengendalikan tubuh kita. Saat bersedih, serangkaian aktivitas otak pun disarankan, mulai dari mencari sebab, merumuskan masalah sampai melakukan tindakan untuk mengatasinya.

Berbeda dengan konsep barat, Islam lebih mengutamakan bagaimana melakukan manajemen hati saat bersedih. "Semua urusan hati adalah berdasar pada landasan spiritual, landasan vertikal yang langsung tertuju kepada Tuhan, Allah SWT," ujar trainer dari lembaga Trustco ini. Ia kemudian mengatakan bahwa dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, hati akan menjadi tenang. Karena Tuhan lah yang menguasai segala yang terjadi di dunia ini, termasuk apa yang terjadi pada diri kita.

Kepasrahan ini, tentu saja tidak hanya dilakukan dengan berdiam diri dan merenungi nasib. "Konsep ini akan lebih mengoptimalkan ketenangan jiwa, karena segala perbuatan yang dilakukan untuk mengatasi kesedihan, semata-mata dilakukan karena Allah SWT. Untuk beribadah khusyuk lagi kepadanya," ujarnya. Sehingga, segala usaha tersebut tidak akan dikotori dengan upaya mempertahankan ego dihadapan orang lain.

Selain Guntar, bedah buku ini juga dihadiri oleh Kajur Teknik Fisika, Dr.Ir. Totok Soehartanto,DEA yang turut menceritakan pengalaman-pengalamannya saat berada dalam kesedihan.(ftr/tov)

Berita Terkait