ITS News

Selasa, 28 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Kuliah Tafsir Intensif M. Quraish Sihab, Mengajak Mentafsirkan Alquran Bersama-sama

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Maklum mereka bukan hanya semata-mata dari latar belakang yang berbeda, tetapi kemampuan mereka dalam menalar sebuah ayat Alquran berdimensi amat luas sesuai dengan disiplin ilmu yang digelutinya. Maka jadilah Kuliah Tafsir Intensif yang diselenggarakan oleh Nara Qualita Ahsana (NQA) –lembaga pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia dengan pendekatan Islami– bersama guru besar Ilmu Tafsir Prof M. Quraish Sihab, begitu gayeng.

Apa yang dikatakan Quraish Sihab, saat menyaksikan berkembangnya penafsiran seseorang terhadap Alquran atau sebuah ayat dalam Alquran? "Inilah pentingnya kuliah tafsir dengan melibatkan banyak pakar. Seorang ahli tafsir seperti saya, yang hanya berlatarbelakang pengetahuan agama, tidak akan mampu menjelaskan semua isi yang terkandung di dalam Alquran," katanya. Itu sebabnya Quraish berulang kali mengingatkan dan mengajak peserta untuk sedapat mungkin di dalam mentafsirkan Alquran dan ayat-ayatnya dilakukan secara bersama-sama dengan para pakar dari berbagai disiplin ilmu.

"Tidak mudah memang mentafsirkan Alquran selain harus tahu asbab nuzul-nya, seorang yang menafsirkan Alquran juga dituntut memiliki syarat-syarat sebagai mufassir," katanya. Pada bagian lain mantan menteri agama ini juga menjelaskan tentang beberapa pokok kekeliruan dalam menafsirkan Alquran, diantaranya, adanya unusr subjektivitas, tidak memahami konteks baik sejarah atau sebab turun maupun hubungan ayat satu dengan sebelumnya, kekeliruan dalam menerapkan metode dan kaedah serta kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian ayat. "Di sinilah maka diperlukan kerja sama dengan para pakar bidang lain untuk menafsirkan Alquran," katanya.

LANGKA
Drs Haryanto MS, Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) salah seorang peserta kuliah mengatakan, kuliah semacam ini merupakan kesempatan langka, karena kita bisa belajar dan berdiskusi panjang lebar tentang tafsir Alquran dengan ahlinya. "Tapi sayang tidak banyak yang memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Buktinya mereka yang berminat hanya orang yang itu-itu saja," katanya.

Memang kalau dilihat dari jumlah peserta relatif tidak banyak, hanya diikuti sekitar 35 peserta. Tapi mereka yang mengikuti kuliah ini cukup beragam dan berbobot, sekadar untuk menyebutkan nama misalnya, Dr Ahmad Sungkar, Dr Muhamad Tohir, Dr Abdullah Sahab, Dr A. Latief Burhan, serta banyak lagi yang lainnya. Direktur NQA, Muhammad Taufiq AB, mengatakan, apa yang dilakukannya dengan menggelar kegiatan kuliah tafsir intensif dengan mengundang pakarnya langsung, tidak lain bagian dari upaya menjawab keingintahunan masyarakat terhadap bagaimana pola dan cara menfasirkan sebuah ayat yang ada dalam Alquran sesuai dengan bidang ilmu yang digeluti peserta.

"Ini penting di masa kini, mengingat aktualisasi tafsir Alquran memang harus selalu dilakukan, dan ini bagian dari menambah keyakinan kalau Alquran memang benar-benar sebuah kitab suci yang dapat menjawab berbagai perkembangan," katanya. Taufiq sendiri tidak mempersoalkan tentang jumlah peserta yang relatif sedikit itu, karena memang tujuannya, katanya, bukan pada jumlah peserta, melainkan bagaimana masyarakat yang memang ingin benar-benar memahami tafsir Alquran itu mendapatkan jawaban yang jelas dari pakarnya. "Soal jumlah peserta memang tidak menjadi target, karena selama ini program yang dijalankan NQA memang terkesan eksklusif. Apalagi kami menyadari orang yang memang benar-benar membutuhkan pemahaman tentang tafsir Alquran atau sebuah ayat tidak terlalu banyak. Tapi kami percaya para peserta yang ikut ini akan menularkan pengetahuannya ke masyarakat lebih luas lagi," katanya.

Dijelaskannya, mengingat begitu luas dan banyaknya persoalan yang ada didalam Alquran, maka kuliah tafsir intensif dengan mendatangkan Prof M. Quraish Sihab ini dibagi dalam tiga kali putaran. "Putaran pertama dan kedua sudah berlangsung, karena itu kami berharap pada putaran ketiga Agustus mendatang dengan topik bahasan yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari termasuk didalamnya bagaimana memahami keistimewaan Ayat Kursi dan memantapkan Iman, pesertanya akan bertambah," katanya.

Taufiq juga menjelaskan, lembaganya memang tidak hanya akan mengkaji tafsir Alquran dalam bentuk kuliah intensif seperti saat ini, tapi ia juga sudah merencanakan menawarkan program-program intensif lain yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat dengan pendekatan dan bahasan yang Islami. "Karena memang lembaga ini disiapkan untuk meluruskan syariat Islam, yang oleh sebagian masyarakat kita masih diartikan sangat sempit, sehingga ada pandangan dari agama di luar Islam, kalau Islam itu kejam, boleh kawin lebih dari satu dan lainnya. Ini yang hendak kami luruskan," katanya. (bch)

Berita Terkait