ITS News

Jumat, 12 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

Kualitas versus Biaya (1)

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Protes terhadap biaya pendidikan yang dianggap mahal dan dirasakan memberatkan masyarakat diperlihatkan oleh banyaknya demonstrasi mahasiswa sepanjang 2004. Persoalan itu, tampaknya, akan terus menggelinding pada 2005. Mengapa? Sebab, tingginya biaya itu memang merupakan akibat logis dari keinginan masyarakat yang juga menginginkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Tuntutan terhadap kualitas pendidikan memang merupakan taruhan besar bagi kita untuk bisa bersaing, tidak hanya di lingkup domestik, tetapi juga di tingkat global. Bisa dibayangkan sangat sulitnya para lulusan sebuah lembaga pendidikan akan bersaing jika mereka tidak berkualitas.

Semua orang menyadari, pendidikan sangat penting, bukan semata-mata untuk mencerdaskan diri, bangsa, dan masyarakat serta meningkatkan martabat dan kesejahteraan. Tapi, lebih dari itu, pendidikan merupakan salah satu cara yang paling elegan untuk memotong mata rantai kemiskinan. Persoalannya, bagaimana mungkin kemiskinan akan makin berkurang jika sementara ini biaya pendidikan terus melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau orang-orang yang mau mencoba melepaskan diri dari ikatan kemiskinan melalui pendidikan?

Tampaknya, fakta itulah yang harus mulai dipikirkan ke depan. Sehingga, gejolak terhadap tuntutan masyarakat dan mahasiswa soal mahalnya biaya pendidikan bisa menemukan jalan keluar.

Apakah Harus Biaya?
Memang ada banyak faktor yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sehingga, biaya bukanlah salah satu jawaban yang mesti dilakukan dan ditentukan lebih awal.
Setidaknya, ada tiga hal penting selain biaya yang bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pertama, berkaitan dengan pendekatan dan cara penyampaian yang memang harus dilakukan dalam proses belajar mengajar. Di situ, faktor guru atau dosen menjadi paling dominan. Sebab, masing-masing guru atau dosen mempunyai pengalaman dan memiliki cara penyampaian yang berbeda.

Kedua, terkait kurikulum. Dalam sistem pendidikan, kurikulum merupakan pencerminan kehendak tentang gambaran lulusan yang dicitakan sekaligus sebagai gambaran tentang proses serta sumber daya (resources) yang dimiliki.

Karena itu, kurikulum sebagai academic plan setidaknya memuat purpose, content, sequence, learner, instructional process, instructional resources, evaluation, dan adjustment. Ketujuh muatan kurikulum terakhir didasarkan pada purpose (tujuan) pendidikan yang dicitakan. Secara falsafati, tujuan tersebut diharapkan selalu memiliki tiga aspek penting, yakni knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude (perilaku).

Persoalannya, meski kurikulum yang telah dibuat sudah mendekati sempurna dan baik, kembali saja kepada guru atau dosen yang akan menyampaikannya. Dan, hal tersebut sangat berkaitan dengan hal ketiga yang bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas. Yakni, fasilitas yang di dalamnya menyangkut, antara lain, operasional laboratorium serta kebutuhan pembiayaan lainnya.

Menyimak tiga persoalan tersebut, rasa-rasanya, masalahnya memang tetap berakhir pada pembiayaan yang harus dikeluarkan dan ditanggung lembaga pendidikan yang ujung-ujungnya dibebankan kepada masyarakat. Meski demikian, kiranya, tidaklah pantas jika sejak awal para pengelola pendidikan memastikan jalan satu-satunya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah mematok biaya yang mahal. Tidak, sekali lagi tidak. Para pengelola lembaga pendidikan harus bisa menunjukkan dulu langkah efisiensi yang dilakukan serta akuntabilitas dalam pengelolaan dana.

Sebab, tanpa didukung langkah efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana, berapa pun dana yang diperlukan, hal itu tidak akan setimpal dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Karena itu, pengelola pendidikan dituntut melakukan efisiensi serta akuntabilitas.

Di sisi itu, bisa dikatakan bahwa dana bukanlah satu-satunya yang harus dijadikan prasyarat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tapi, dana merupakan kesempurnaan syarat atau dalam agama dibahasakan sebagai syarat rukun yang memang harus terpenuhi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Pada titik tersebut, bisa disampaikan bahwa biaya jangan ditonjolkan sebagai faktor penentu. Sebab, jika biaya atau dana ditonjolkan, hilanglah nilai-nilai idealisme sebuah lembaga pendidikan.(bersambung)

Penulis :
Mohammad Nuh
Guru Besar dan Rektor ITS

Berita Terkait

ITS Media Center > Opini > Kualitas versus Biaya (1)