ITS News

Minggu, 26 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Kronologis Kejadian Tawuran ( Tulisan I )

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Tragedi kerusuhan antara mahasiswa Teknik Elektro dan D3 Teknik Mesin menjadi keprihatinan semua pihak. Baik itu dari pihak mahasiswa maupun dari pihak rektorat. Tak terkecuali Danar Surya, Presiden BEM ITS, yang berkunjung ke kantor ITS Online Senin (8/10), dan memberikan kesaksiannya seputar kejadian Selasa Kelabu. Pada saat kejadian, Danar berperan aktif dalam mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa. Berikut ini petikan wawancara yang dituliskan kembali dalam gaya bicara si penulis. Kejadian ini sebenarnya merupakan dendam kesumat antara Jurusan Elektro dengan D3 Mesin. Sebelum kejadian kemarin, mereka pernah tawuran pada sekitar tahun 1994. Permusuhan tersebut selanjutnya berbuntut ke generasi berikutnya sampai dengan terjadinya aksi tawuran pada hari selasa (2/10/2001).

Pagi itu, saya ada di rumah dalam keadaan sakit. Saya ditelpon seseorang bahwa peristiwa saling ejek yang terjadi pada hari Minggu akan berlanjut dengan aksi mendatangi kampus D3 Teknik Mesin. Saya langsung bergegas ke kampus, Karena saya pikir bila situasi memanas pasti akan berlanjut dengan bentrok fisik. Waktu menunjukkan pukul 08.30 BBWI ketika saya memutuskan untuk berbagi tugas dengan Guntar (Sekum BEM). Misi yang kami bawa adalah mendamaikan kedua belah pihak agar tidak terjadi bentrok fisik. Saya ke D3 Mesin dan Guntar ke Elektro. Rupanya kondisi di Elektro sudah memanas. Lewat HP saya, Guntar memberi informasi bahwa mereka (Mhs Elektro) sudah bersiap untuk berangkat ke D3 Mesin setelah mendapat restu dari Dr.Ir. Achmad Jazidie, M.Eng. (Ketua Jurusan Elektro). Saya instruksikan, bila terpaksa ada pengerahan massa, maka pakailah cara-cara yang baik, yakni dengan membuat tali pembatas. Tali tersebut digunakan sebagai batas, jika ada mahasiswa keluar dari batas tersebut, mereka akan dianggap bersalah. Ternyata, tali tersebut tidak digunakan selama perjalan menuju ke kampus D3 Mesin karena pada saat Guntar datang membawa tali yang baru dibeli, massa sudah berangkat.

Sedangkan, di kampus D3 sendiri keadaan cukup panas juga. Mereka mulai berkumpul dalam kelompok-kelompok. Karena, dikuatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Maka saya berusaha membubarkan kelompok-kelompok tersebut. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Tiba-tiba gerombolan dari mahasiswa elektro sudah berdatangan. Tentu saja, itu membuat keadaan disekitar kampus D3 Mesin menjadi panas. Sekali lagi, ini memaksa saya untuk bertindak secara cepat. Sungai yang ada disebelah selatan kampus D3 Mesin menjadi batas dari kedua kelompok tersebut. Pada mulanya, kedua kelompok tersebut tak terlihat untuk melewati batas tersebut.

Mereka lebih banyak melakukan adu mulut. Tiba-tiba, seorang mahasiswa dari D3 mesin berusaha untuk melewati batas. Dengan membawa pentungan. Secara spontan ini menimbukan perlawanan dari kedua pihak. Dan kejadian tawuran pun tak terelakkan. Dan kedua kalinya, saya berusaha melerai kedua pihak untuk berhenti. Dengan mengundang dari utusan dari kedua pihak tersebut. Perundingan ini tidak hanya di hadiri oleh para utusan mahasiswa saja melainkan juga oleh para pimpinan ITS, Ir. Soermartodjo (Pembantu Rektor III ITS), Dr.Ir. Achmad Roesyadi, MSc. (Dekan FTI).

Karena, kondisi panas masih menyelimuti kedua belah pihak. Perundingan tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Dan aksi lempar pun terjadi lagi. Ini tidak hanya terjadi sekali namun berkali-kali. Sampai-sampai salah satu dari petinggi ITS dan Kapolsek Sukolilo terkena lemparan batu.

Kondisi inilah, yang kemudian memaksa saya, mengusulkan perundingan di tempat lain, pada jam 12 siang. Dengan syarat, mahasiswa elektro kembali ke kampusnya. Meski demikian mahasiswa elektro masih tetap bertahan tidak akan kembali ke kampus sebelum permasalahan tersebut selesai saat itu juga. Namun, setelah dilakukan negosiasi diantara mereka dengan jaminan presiden BEM. Mereka bersedia kembali ke Jurusan Elektro.(rom/rif)

Berita Terkait