ITS News

Jumat, 30 September 2022
15 Maret 2005, 12:03

Kontroversi Sekaligus Motivator Wanita

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Makin berkembangnya peradaban budaya yang juga memacu perkembangan pola pikir manusia untuk lebih survive hidup, hal serupa inipun juga terjadi pada diri seorang wanita. Dimana wanita saat ini tidak hanya berpangku tangan atau diam saja dalam menerima suatu keadaan yang mungkin terpojok. Dengan ikhwal inilah kaum wanita mulai bangkit dan berjuang untuk melamgkah lebih maju dengan emansipasinya. Akan tetapi, bagaimanakah menjadi wanita yang ideal dalam mewujudkan emansipasinya?.

Semua dapat terjawab dengan jelas dan lengkap dalam acara yang telah diadakan oleh kajian gabungan Kimia MIPA dengan Poltek Elka-ITS dengan tema "Mengakhiri Konflik Peran Ganda Wanita" pada hari sabtu (12/4) kemarin pagi pukul 08.00 WIB, bertempat di Teater A poltek Elka-ITS. Adapun pembicara yang mengisi acara kajian ini adalah Ustadz. Ummi Sa'aadah (salah satu dosen Poltek Elka-ITS).

"Emansipasi wanita, mengertikah kita akan makna dari kalimat itu?", ujarnya saat mengawali materi kajian ini. Bila kita (kaum wanita) berbicara tentang emansipasi, "Maka kita semua akan dihadapkan pada suatu aktivitas atau peran ganda dari kita sendiri sebagai seorang wanita", katanya, baik segala kewajiban di rumah sebagai seorang istri dan juga peranan atau perjuangan kita di lingkungan kerja, tegas dosen Poltek Elka ini.

"Hal di atas itulah yang menuntut seorang wanita untuk lebih cermat dan pandai untuk memilih prioritas mana diantara dua sektor publik (kerja) dengan sektor domestik (keluarga)," ungkap Ustadz. Ummi S. Namun, untuk suatu keputusan lebih baik diambil adalah tetap memprioritaskan sektor domestik
(keluarga), menurutnya "Seorang ibu merupakan madrasah yang pertama bagi anak-anaknya," tuturnya, dalam hal ini seorang ibu harus dapat mencurahkan perhatian dan kasih sayang bagi anak-anak, jelasnya. Setelah hal ini seorang ibu berhak untuk memilih prioritas kedalam pekerjaannya (dalam artian dengan seijin dari suaminya), hingga berjuang untuk menuntut equalitas dan kesetaraan gender dalam aktivitas kerja (sektor domestik), tutur pengajar Poltek Elka ITS ini. (mut/bch)

Berita Terkait