ITS News

Sabtu, 24 September 2022
15 Maret 2005, 12:03

Konsul Jenderal AS Temui Rektor ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS), Phillip L. Antweiler, Selasa (10/2) siang menemui Rektor ITS Dr Ir. Moh. Nuh DEA di Kampus ITS, Sukolilo. Kehadiran Konsul di ITS itu, seperti dikatakan Moh. Nuh, untuk saling bersilaturahim.

"Sebagai lembaga pendidikan berbasis teknologi, maka yang kami bicarakan
adalah soal kemungkinan-kemungkinan kerja sama di bidang teknologi, baik dengan pemerintah AS maupun perguruan tinggi-perguruan tinggi di sana. Prinsipnya mereka sangat membuka diri dan akan memfasilitasi," kata Nuh, usai menerima Antweiler sekitar satu jam di ruang kerjanya.

Nuh juga menyampaikan keinginannya untuk mengundang para pakar atau praktisi AS berbicara di ITS. "Saya sangat mengharapkan pemerintah AS melalui Anda bisa mendatangkan misalnya Bill Gate untuk berbicara di
ITS," katanya.

Selain itu, kata Nuh kepada Antweiler, kehadiran praktisi seperti Bill Gates akan dapat menumbuhkembangkan iklim kesadaran masyarakat kampus khususnya ITS terhadap pentingnya hak kekayaan intelektual atau paten. "Ini perlu kami sampaikan kepada mereka, bahwa sesungguhnya kita juga
bersungguh-sungguh didalam mendapatkan dan mengelola hak kekayaan intelektual dan paten," katanya.

Menurutnya, ada tiga dimensi yang bisa diambil sekaligus ketika seseorang
sudah memiliki paten. Pertama, dimensi terhadap upaya menghargai hasil karya orang lain. Kedua, dimensi finansial, dimana orang yang memiliki paten akan memperoleh finansial tertentu manakala patennya digunakan oleh orang lain, dan ketiga, dimensi untuk melakukan inovasi lebih jauh lagi dari apa yang telah dipatenkan tersebut. "Seseorang yang telah memiliki
paten akan dengan mudah melakukan inovasi dibidang ilmunya, karena secara finansial tidak akan terkendala lagi dengan biaya yang harus disiapkan. ITS sebagai sebuah perguruan tinggi punya peran amat besar untuk membangunkan kesadaran itu," katanya.

Ditanya apa ada soal lain yang berkait dengan politik kampus menjelang Pemilu yang ditanyakan konsul AS? Moh. Nuh menjelaskan, mereka memang antara lain juga menanyakan hal itu. Tapi, kata rektor mengungkapkan,
bagi ITS persoalan politik sesungguhnya tidak hanya terbatas saat-saat menjelang Pemilu seperti saat ini, karena sesungguhnya spektrum politik sedemikian luas, berkait dengan persoalan nasib suatu bangsa, dan ITS
mengambil peran yang belum diperankan oleh kebanyakan orang yang mengambil bagian dari politik praktis. "ITS tidak bermain di situ karena memang tidak memiliki kompetensi di sana, tapi mencoba mengambil peran lain didalam pengembangan teknologi," kata Nuh kepada Antweiler. (Humas – ITS, 10 Februari 2004)

Berita Terkait