ITS News

Minggu, 26 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Keluarga Merupakan Faktor Utama

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Menindaklanjuti hasil suksesi kepengurusan BEM FTI-ITS periode 2003/2004, departemen Dikesma menggelar acara bedah buku. Bertempat diruang seminar perpustakaan pusat lt. 2, acara yang mengundang pembicara dari UBAYA dan Konsultan Pembelajaran ini berlangsung selama kurang lebih 3 jam.

Acara yang dijadwalkan mulai jam 13.30, terpaksa molor 1/2 jam. "Kami sengaja mengundur acara karena jam-jam segini ternyata masih banyak teman-teman yang kuliah. Jadi kita sambil nunggu teman-teman yang kuliah," ujar Yanu, ketua panitia.

Bagi mahasiswa Teknik Material '01 ini tidak ada masalah dengan pembicara berkenaan dengan pengunduran jadwal acara. "Mereka (para pembicara, red) malah sudah datang sejak jam 1 tadi," tambah Yanu. Dua pembicara itu adalah Aniva Kartika, dosen psikologi UBAYA, dan Bagus Sanyoto, konsultan pembelajaran.

Menurut Yanu, keputusan pihaknya memilih buku 'A Man Named Dave' sebagai bahan bedah buku kali ini karena dari buku itu banyak sekali tinjauan psikologis yang tentunya akan sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. "Selain itu karena bidang kami itu dikesma maka kami pilih buku itu, kalau bedah bukunya tentang ekonomi atau wirausaha maka yang mengadakan harusnya di visi wirausaha," terang mahasiswa kelahiran Gresik, 20 tahun silam.

Buku yang bercerita tentang biografi seorang yang berhasil melalui semua permasalahan hidup yang menimpanya, dalam usia yang masih terlalu kecil dimana tidak seharusnya dia mendapatkan permasalahan yang harus dihadapinya seorang diri. "A Man Named Dave" ini menyampaikan sebuah kisah akhir dari perjalanan panjang seorang anak dalam bertahan hidup. Buku ini merupakan kesimpulan dari dua buku sebelumnya yaitu "A Child Called It" dan "The Lost Boy' yang akhirnya dari ketiga buku tersebut mengajarkan kepada pembacanya tentang keberhasilan dan kekuatan memaafkan.

Dalam buku itu diceritakan, David (Penulis ) sejak kecil sudah menerima siksaan dari ibu kandungnya sendiri, dia selalu menjadi sasaran kemarahan sang ibu selama 12 tahun. Selama itu, dalam setiap harinya David harus menahan lapar sampai tinggal dalam kegelapan basement. Sampai akhirnya David bisa meloloskan diri dari kekangan ibunya, mendapat orang tua asuh, diterima di United States Air Forces dan berkeluarga. Namun satu hal yang membuat David bingung terhadap dirinya sendiri. Dia tidak pernah bisa membenci ibunya.

Diceritakan pula, Ibu David bersikap seperti itu lantaran pengalaman masa kecilnya. Dan itu dilampiaskannya kepada David. Secara tinjauan psikologis, David pun bisa melampiaskan apa yang telah dialaminya itu kepada anaknya. Tapi itu tidak dilakukan oleh David, dan dia berhasil memutus rantai yang membelenggu masa lalunya.

Meskipun peserta yang hadir tidak lebih dari 50 orang, namun jumlah tersebut tidak mengurangi ramainya acara. Pasalnya, selama berlangsungnya acara para pembicara tidak hanya melulu berbicara seputar isi buku, tapi juga tidak henti-hentinya memberikan joke-joke segar sehingga ruangan pun ramai oleh tawa peserta.

Menanggapi isi buku tersebut, Bagus hanya menitipkan pesan kepada peserta bahwa perlu adanya keseimbangan EQ dan IQ, serta keseimbangan dalam pola pendidikan dan pembelajaran karena merupakan dasar dari pembentukan karakter. Karena, menurut Bagus, itulah yang membuat David mampu memaafkan ibunya bahkan tidak pernah membencinya.

Sementara itu, Aniva tidak mau ketinggalan. "Pembentukan karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga terutama kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan dalam keluarga itu. Pola pendidikan yang diberikan orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak," pesan dosen UBAYA ini.(sept/li)

Berita Terkait