ITS News

Sabtu, 04 Februari 2023
15 Maret 2005, 12:03

Karya-Karya Arek Surabaya di Lomba Cipta Elektroteknik Nasional di ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Bapak Tuli, Terciptalah Alat Pengukur Ketulian

Di kampus ITS, sejak Senin lalu hingga Jumat ini digelar Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) yang diikuti para siswa dan mahasiswa. Beberapa peserta dari Surabaya punya karya menarik yang diikutkan di ajang bergengsi itu. Apa saja?

Penampilan mahasiswa teknik elektro ITS semester 8 ini, sangat sederhana. Tapi, dibalik kesederhanaannya itu, bakatnya tak bisa diremehkan. Dia adalah Ronny Mardiyanto, salah satu peserta LCEN yang ikut dalam kategori Biomedika. Karyanya dia beri judul Alat Pengukur Derajat Ketulian Untuk Diagnosa Pasien THT (telinga hidung tenggorokan).

Karya yang diciptakannya cukup sederhana: Sebuah kotak hitam seukuran tape mobil, dilengkapi dengan headphone. Ada dua buah tombol, yakni scaning frekuensi (untuk menghasilkan suara, sekaligus menyeleksi frekuensi yang dibutuhkan) dan scaning intersitor (untuk memperkuat atau memperlemah suara yang dihasilkan oleh scaning frekuensi). Dua tombol ini menempel di kotak hitam tersebut. Di antara dua tombol itu, ada selektor untuk memilih, apakah untuk mengetes telinga kiri atau kanan.

Di dalam alat tersebut dilengkapi dengan Analog Digital Converter (ADC), dan microcontroller yang dihubungkan ke layar LCD. Tampilannya akan seperti layar handphone. Dari layar inilah akan terlihat, berapa derajat ketulian pasien.

Cara pemakaiannya, seorang pasien cukup memakaikan headphone ke telinganya. Selanjutnya, cukup memainkan tombol scanning intersitor. Seperti tombol volume, jika diputar ke kanan akan terdengar suara yang makin besar.

Bagaimana cara mengetes derajat ketulian? Setelah terdengar suara dari headphone, pasien bisa mengecilkannya sampai batas antara suara terdengar dan tidak. "Tingkat ketuliannya akan terlihat di layar LCD," ujar Ronny.

Ronny menetapkan angka 75 sebagai standar kenormalan telinga seseorang. Darimana angka itu? Sebelum menetapkan angka itu, dia telah mengujikan kepada 25 orang yang dia anggap pendengarannya normal. Dari hasil pengujian itu, dirata-rata, lalu ditemukanlah angka 75. "Ini hanya skala yang saya tentukan sendiri. Jadi, tidak pakai satuan internasional," paparnya.

Angka 1-75, menunjukkan kondisi telinga normal. Di atas 75, berarti ada gejala tuli. "Waktu saya tes ke pasien tuli, di layar keluar angka 110," urainya.

Mengapa dia beride membuat alat ini? Ternyata, ide ini berasal dari ayahnya, Pardono, yang menderita tuli. Penyakit tuli ayahnya ini kemungkinan disebabkan pekerjaannya sebagai pegawai di stasiun kereta api di Sragen.

Dia pernah membaca, jika tuli sebenarnya bisa disembuhkan. Tahap penyembuhannya membutuhkan terapi lama, dan setiap hari harus diukur derajat ketuliannya. "Makanya, saya buat alat ini agar suatu saat bisa dipakai untuk ayah saya," ujar pria kelahiran 18 Januari 1981 ini.

Untuk membuat alat ini, ternyata tidak lama dan biayanya murah. Dalam waktu tiga hari, alat ini sudah siap untuk dipakai. "Kalau biayanya hanya habis Rp 50 ribu," papar peserta yang pagi ini akan mempresentasikan karyanya.

Peserta dari Surabaya lainnya yang tak kalah menarik adalah milik Satria Arief Budi, siswa SLTP Petra 3 Surabaya. Karya ciptaannya diberi judul: Pemanfaatan Mikrokontroller sebagai Media Komunikasi Penyandang Tuna Rungu dan Tuna Wicara.

Di kategori elektroteknik dasar, semua lawan Satria dari SMU dan SMK. Dia dan temannya, Yuyen Purnomo, merupakan satu-satunya siswa SLTP yang mengikuti LCEN.

Alat Satria ini terdiri dari CPU dan keyboard komputer, serta speaker. Di CPU itu dilengkapi dengan mikrokontroller dari IC 89C51, decoder IC 74LS42 dan CD room. Alat ini dihubungkan dengan keyboard. Tapi, bukan keyboard utuh, tapi hanya huruf-hurufnya saja yang diambil. Di sisi lain, CPU dihubungkan dengan speaker.

Di atas tombol keyboard ditempel gambar tangan yang melambangkan gerakan bahasa isyarat. Seseorang tuna rungu dan tuna wicara yang ingin berkomunikasi, cukup menekan tombol yang bergambar bahasa isyarat tadi. Misalnya, gambar tangan menggenggam, berarti huruf a. Jika dia ingin mengucapkan kata "aku", maka cukup menekan lambang-lambang bahasa isyarat yang menggambarkan huruf a, k dan u. Selanjutnya, dari speaker akan terdengar bunyi a, k, u. "Ini juga bisa dipakai untuk terapi penyembuhan tuna wicara," kata Satria.

Dari mana Satria memiliki ide ini? Awalnya dia jalan-jalan ke THR dan melihat banyak CD room bekas, serta komponen komputer bekas yang dijual. Kebetulan, alat itu dijual oleh seorang yang tuna rungu. "Saya kesulitan untuk mengerti ucapannya," jelasnya. Dari sinilah dia punya ide untuk menciptakan alat tersebut.

Selain itu, Satria juga membuat satu alat lagi dalam laga LCEN itu. Dia bersama Yuyen Purnomo, membuat media belajar jaring makanan secara elektronik. Alat ini dikhususkan untuk anak SD kelas 3 yang ingin belajar IPA. Alat itu berbentuk kotak yang di atasnya terdapat gambar binatang-binatang seperti elang, harimau, tikus, kambing, ular dan kelinci. Juga ada gambar wortel dan sayur. Jika ditekan elang misalnya, harus mencarikan jaring makanannya. Misalnya dengan memencet ular. Jika jawaban benar, secara otomatis akan muncul skor 100 di layar. Kalau salah, skornya juga sedikit.(tomy cahyo gutomo)

Berita Terkait