ITS News

Minggu, 27 November 2022
15 Maret 2005, 12:03

Kala Sang Pemakan Waktu

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

;Aku adalah seokar lalat, nasib tak bisa di ralat, sebab aku cuma seekor lalat", inilah salah satu syair yang dinyanyikan oleh lalat. Melihat ada sosok makhluk yang mempunyai sifat lebih buruk daripadanya. Makhluk itu tak lain adalah KALA.

Keinginanya untuk selalu makan…makan….dan makan. Dan tak tanggung-tanggung apa saja yang diberikan oleh sang ibu dimakannya. Meskipun usianya masih tujuh bulan, karena nafsu makannya yang begitu besar sang ibu dan bapak melakukan beberapa cara untuk mengendalikan nafsunya tersebut. Dia dikurung dalam sebuah banker yang terbuat dari besi tebal. Tapi, semuanya itu pun dimakannya. Sebelum itu pernah dititipkan ke bibinya (pengusaha kasino disuatu pulau), disana pun pengunjung dimakan olehnya setelah dia kalah main judi. Sejak itulah keluarganya tak mau tahu tentang dirinya.

KALA yang merupakan titisan dari Batara guru ini, mau makan semua benda dialam raya ini demi memenuhi nafsu makannya. Hal itu membuat Kayangan menjadi gempar dengan apa yang dilakukan KALA ini. Akhirnya, KALA dipanggil ke kayangan untuk diangkat menjadi dewa disana, tetapi tawaran itu ditolaknya. Karena yang dia inginkan adalah makanan, dan para dewa pun akan dimakannya, seandainya semua makanan yang ada dikayangan habis dimakannya. Akhirnya dewa Batara guru marah dan memberikan hukuman terhadap KALA sampai akhirnya dia bersedia menjadi penguasa waktu. Dimana wkatu tak akan pernah habis walaupun dimakannya.

Itulah karya dengan bertajuk "KALA" yang dimainkan oleh teater koma selama 1.5 jam. Teater ini digelar dalam rangka ulang tahunya ke-24. Di lapangan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jum’at malam. Karya dari N. Riantiarno ini akan digelar juga di 12 tempat Jawa-Bali.

Penampilanya di ITS, banyak menarik perhatian mahasiswa ITS untuk menonton pertunjukan ini. Sehingga dapat menjadi hiburan tersendiri bagi mereka yang usai melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS). Mayarakat sekitar pun ikut meramaikan momen ini. Ada yang menggelar dagangan berupa makanan kecil seperti buah-buahan, kacang, bakso, dan sejenisnya. Dan tak ketinggalan juga adalah para satpam yang dapat meraup keuntungan besar dalam menjaga keamanan dengan membuka lahan parkir di halaman kampus D3 dengan biaya Rp.500,- untuk motor dan Rp.1.000,- untuk mobil.

Pementasan ini diharapkan bisa memberi manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat sekitarnya."Kami berharap mahasiswa dan masyarakat dapat mengambil manfaat dari pementasan Theater Koma dalam karya KALA", ungkap Daniel M Rosyid, PR IV ITS pada sambutannya.

Mungkin pelajaran yang dapat kita ambil dari pementasan "KALA" ini, bagaimana kita agar tidak seperti KALA yang rakus akan kekuasaan, kekayaan dan rakus yang lainnya, hingga harus merusak keadaan yang ada.(rom/sal)

Berita Terkait