ITS News

Selasa, 04 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

Jangan Maju Perang Kecuali Untuk Menang

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Hari ini, Kamis, 17 Juli 2003, merupakan hari terakhir perjuangan sekaligus penentuan siapa yang nantinya berhak memegang tampuk kepemimpinan di FTSP dari lima calon dekan yang berhasil lolos penjaringan (20/06).

Bertempat di Gedung Pasca Sarjana, ITS, acara yang dimulai pukul 09.30 WIB ini diisi dengan presentasi visi misi dan program kerja dari masing-masing calon dekan. Dr.Ir. Sarwoko M.,MSc.(T. Lingkungan) dengan 'Pelembagaan Darma Utama Dosen Dalam Koridor Kebijakan Dasar ITS' mengawali presentasi calon dekan FTSP ini kemudian dilanjutkan oleh Prof.Ir. Priyo Suprobo,MS.PhD.(T. Sipil) yang menekankan pada pemberdayaan FTSP menuju ITS mandiri. "Untuk itu,FTSP harus berparadigma baru," ujarnya.

Prof.Ir. Happy Ratna S.,MSc.,PhD.(Arsitektur) yang merupakan satu-satunya calon dekan wanita, memperoleh kesempatan ketiga untuk mempresentasikan visi dan progran kerjanya di hadapan kurang lebih 200 mahasiswa, karyawan dan dosen FTSP yang hadir pada acara ini. Menyusul kemudian Dr.Ir. Bangun Muljo S.,DESS.DEA.(T.Geodesi)yang mengangkat isu pelaksanaan PTBHMN di ITS dilanjutkan dengan presentasi dari Dr. Agus Windharto,DEA.(Desain Produk) yang mengangkat 'Implementasi Program FTSP-ITS' sebagai visi misi dan program kerjanya.

Namun dari semua visi misi kelima calon dekan FTSP ini, semuanya menyinggung tentang akan berubahnya ITS menjadi PTBHMN yang rencananya diberlakukan pada 2004. Selain itu, strategi pengembangan ITS yang merupakan ketetapan pimpinan ITS melalui motto WE CARE IN : Image Building, Strengthening of Intellectual Capital, dan Networking Development juga masih menjadi acuan dari kelima calon dekan FTSP itu dalam visi dan misinya.

Menanggapi lontaran dari panelis, Indro Utomo, mengenai ITS(Institut Tukang Sulap) dimana banyak orang mengatas namakan ITS padahal kegiatan yang dilakukan tidak terkait sama sekali dengan ITS, Agus Windarto, Bangun Mulyo dan Happy Ratna mempunyai pendapat yang sama. Selagi masih positif dan tidak mengganggu ITS, tidak terlalu bermasalah mengenai anggapan itu. "Kita kan memang seperti pesulap. Mampu merubah mahasiswa yang sebelumnya nol menjadi lebih pandai," kata Bu Happy. "Dan itu tidak perlu ditanggapi serius kecuali kalau ada risetnya," terang wanita kelahiran Malang ini.

Mejawab pertanyaan dari Arief, Geodesi, tentang masih sedikitnya jumlah mahasiswa yang dilibatkan dalam penelitian, Bangun Mulyo yang masih menjabat sekretaris LPM ini mengatakan bahwa sebenarnya ITS telah menyediakan dana penelitian (LPM) plus minus enam juta rupiah untuk tiap kegiatan namun jumlah mahasiswa yang mengajukan proposal sangat sedikit. "Kalau dilihat dalam lingkup Jawa Timur, minat mahasiswa ITS dalam penelitian itu di bawahnya Unibraw dan Unesa," lanjutnya.

Masing-masing calon dekan FTSP itu juga sepakat bahwa forum kajur yang telah berlangsung pantas untuk dikembangkan lagi mengingat manfaatnya. "Forum kajur ini mempunyai nilai positif antara lain sebagai media komunikasi,informasi sekaligus silaturrahmi," terang Priyo Suprobo. Sarwoko menambahkan bahwa dengan forum ini, para kajur bisa bebas mengeluarkan uneg-unegnya. "Jadi yang keluar bukan yang baik-baik thok seperti di rapim," imbuhnya.

Dan kebijakan untuk D3 lebih diarahkan untuk menjadi sebuah lembaga yang otonom. "D3 sebaiknya menjadi jurusan tersendiri(otonom)," kata Pak Agus ketika ada pertanyaan mengenai nasib D3 ini nantinya.

Acara presentasi visi misi dari kelima calon dekan FTSP ini akhirnya diakhiri pada 12.03 WIB dan kemudian dilanjutkan dengan rapat senat. Akhirnya ditetapkan bahwa yang diajukan ke Rektor sebagai calon Dekan FTSP adalah Prof.Ir. Priyo Suprobo,MS.PhD. yang memperoleh suara terbanyak dengan Prof.Ir. Happy Ratna Sumartinah,MSc.PhD. yang menempati urutan kedua. Selamat kepada kedua calon Dekan FTSP ini.(rin/bch)

Berita Terkait