ITS News

Selasa, 05 Juli 2022
15 Maret 2005, 12:03

ITS Siapkan Daya Tampung 20 Persen Untuk Program PMDK Kemitraan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Hal itu diungkapkan Pembantu Rektor I ITS, Prof. Ir. Noor Endah MSc, PhD, Selasa (11/5) siang berkait dengan rencana penerimaan mahasiswa baru ITS tahun 2004-2005.

Menurutnya, ada tiga jalur penerimaan mahasiswa baru yang diberlakukan ITS. Pertama, jalur PMDK Kemitraan, yang direkrut melalui kerja sama kemitraan antara ITS dengan Pemprop, Pemkot, Pemkab, maupun perusahaan baik swasta maupun pemerintah. "Jumlahnya mencapai 20 persen dari daya tampung mahasiswa yang kami terima melalui jalur SPMB bagi jurusan yang memang selama ini tidak menerima mahasiswa program ekstensi, sedang bagi jurusan yang selama ini menerima program ekstensi jumlahnya 20 persen ditambah dengan jumlah mahasiswa yang selama ini diterima melalui pembukaan program eksetensi, tapi kali ini diterima melalui jalur PMDK Kemitraaan, karena memang program ekstensi ditiadakan," katanya menjelaskan.

Kedua, jalur PMDK Reguler, yang pada tahun, katanya menambahkan, jumlah jurusan yang bakal menerima melalui jalur ini bertambah, dan dijaring melalui hasil prestasi akademik yang diperoleh selama di bangku SMA. Prosentasenya berbeda antara jurusan satu dengan lainnya, tapi berkisar antara 20 hingga 30 persen. "Tahun ini memang kami coba perluas. Kalau tahun sebelumnya hanya pada Jurusan-jurusan di FMIPA dan FTK, kini kami perluas lagi pada jurusan Teknik Mesin, Teknik Fisika, Teknik Material, Teknik Geodesi, Perencanaan Wilayah Kota semuanya untuk program S1," katanya.

Ketiga, katanya lagi, melalui jalur SPMB yang secara nasional akan dilaksanakan secara bersama-sama dengan perguruan tinggi negeri lainnya. "Jumlah mahasiswa yang diterima melalui jalur ini cukup besar, tahun ini sebanyak 1.465 mahasiswa untuk 21 jurusan yang ada di ITS," katanya.

PERLUAS KEMITRAAN
Dihubungi terpisah usai penandatanganan kerja sama PMDK Kemitraan dengan Bupati Fakfak, Rektor ITS Dr Ir Mohammad Nuh DEA mengatakan, ke depan ITS memang akan memperluas program penerimaan mahasiswa baru melalui jalur kemitraan. Tujuannya, agar asal daerah mahasiswa ITS beragam. "Kini sudah ada lebih dari 10 bentuk kerja sama program PMDK Kemitraan dengan Pemprop, Pemkot, Pemkab maupun perusahaan," katanya.

Khusus program PMDK Kemitraan dengan kawasan yang berada di Indonesia Timur, seperti dengan Pemkab Fakfak, kata Nuh menjelaskan, ITS telah membuat kebijakan keberpihakan dengan tujuan agar pemerataan pendidikan terjadi pemerataan. "Ini penting, mengingat jika tetap menggunakan standar yang selama ini digunakan ITS, maka tidak akan banyak mahasiswa ITS yang berasal dari wilayah Indonesia Timur. Kenapa? Karena hasil pendidikan di bangku SMA yang tidak merata antara siswa yang berada di Jawa dengan di luar Jawa," katanya.

Nuh juga mengungkapkan alasan lain terhadap kebijakan keberpihakan itu, yakni berkait dengan penerapan asas keadilan. Karena asas keadilan itu bukan hanya berkait pada soal kemampuan, akses, dan kesempatan yang diberikan, tetapi juga menyangkut soal seimbang-tidaknya terhadap kekampuan, akses, dan kesempatan yang telah diberikan itu. "Jika tidak seimbang dan memang nyata-nyata sangat signifikan hasil pendidikan di Jawa dan luar Jawa, maka itu termasuk tidak menerapkan asas keadilan. Itulah sebabnya ITS mencoba memberikan kebijakan keberpihakan terhadap mahasiswa yang berasal dari Indonesia Timur," katanya.

Kebijakan keberpihakan itu antara lain dilakukan dengan cara memberikan perkuliahan lebih awal yang diisitilahkan Pra-Engenering untuk mata kuliah Matematika, Fisika, Komputer dan Bahasa Inggris.
"Pola ini akan terus dijalankan ITS untuk memberikan pemerataan pendidikan di kawasan Indonesia Timur, apalagi dari hasil pantauan sementara, para mahasiswa yang diterima melalui model ini prestasinya cukup baik. Kami menyadari kalau para lulusan yang berasal dari Indonesia Timur diperlakukan sama didalam mengikuti ujian lewat jalur SPMB, mereka tidak akan mampu bersaing, karenannya ITS mengambil kebijakan seperti ini, dan untuk mensejajarkan pengetahuan awal mereka, diadakan Pra-Engenering untuk mata kuliah tertentu selama 10 minggu sebelum perkuliahan resmi dimulai," katanya.

Bupati Fakfak, Drs H. Wahidin Puarada MSi mengakui, kualitas SDM yang ada di kabupatennya memang terbilang masih rendah, karena itu pihaknya menyambut baik jika ITS dapat menerima kenyataan itu. "Tentu saja ini hanya untuk jangka pendek dan awal dari upaya untuk meningkatkan kualitas SDM di Fakfak.Kami yakin dengan cara seperti yang dilakukan oleh ITS dalam waktu 10-15 tahun lagi SDM di Fakfak akan lebih berkualitas dan tingkat pemerataan pendidikan akan berhasil dengan baik," katanya.

Wahidin memberi contoh tentang memprihatinkannya kualitas SDM di daerahnya, misalnya siswa yang sudah duduk di tingkat SMP saja masih banyak yang kurang lancar dalam membaca.
"Demikian juga dengan standar minimal kelulusan pada UAN sebesar 4,01, ternyata dari hasil uji coba yang telah dilakukan hanya ada 5 sisiwa yang lulus. Kalau seperti ini terus dilakukan kapan SDM di Fakfak meningkat. Karena itu saya mengusulkan, jika memang dalam UAN siswa tidak lulus sebaiknya jangan dikembalikan lagi untuk mengulang, tapi mereka disiapkan didalam satu kelas matrikulasi jika memang siswa tersebut benar-benar akan melanjutkan ke bangku kuliah, dengan cara ini moral anak didik akan terangkat sementara lewat matrikulasi di perguruan tinggi yang akan dituju mereka akan mendapatkan persamaan yang setara," katanya. (Humas – ITS, 11 Mei 2004)

Berita Terkait