ITS News

Jumat, 07 Oktober 2022
15 Maret 2005, 12:03

ITS PUNYA LADANG SAYURAN ?

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kalau ada kampus teknologi yang punya berpetak-petak ladang, itu pastilah ITS. Bagaimana tidak, di ujung timur jalan Teknik Perkapalan saja ada sekitar 250 meter persegi lahan ‘nganggur’ yang kini disulap menjadi ladang sayuran.

Tersebutlah Salim, pria separuh baya yang ditemui saat menyemai biji sayuran di lahan yang digarapnya. Ia tampak sibuk menaburkan biji yang diperoleh dari hasil memilah sendiri biji dari tanamannya. Sesekali ia menyiram pinggir-pinggir petak ladang yang berukuran 1 x 5 meter dengan air sungai tak jauh dari sana.

Menurut Salim, ia rutin merawat kebun dua kali sehari, terkadang bergantian dengan istrinya. Sore itu ia berencana menabur bibit bayam. "Kalau menanam sayuran ini (bayam, red) enak mas, paling-paling 25 hari lagi siap dipanen!" ujarnya seraya menunjukkan biji bayam. Lantas ia pun menjual hasil panen itu ke pasar Keputran.

"Lumayan, kalau harga sayur naik, satu petak ini saja bisa menghasilkan Rp 25.000,00" katanya dengan bangga. Padahal lahan yang dikelola Salim ada 20 petak, hitung sendiri keuntungan yang diperolehnya tiap bulan. "Ya, kalau mengandalkan gaji dari ITS saja sih tidak cukup!" tambah Salim sambil menerangkan kalau dia juga bekerja sebagai tukang pembersih rumput di kampus ini.

Ditanya soal izin penggunaan lahan kampus untuk berladang kepada para birokrat ITS, Salim hanya menggelengkan kepala. "Saya tidak izin mas, langsung saja ketika ada lahan terbengkalai, saya olah jadi ladang seperti ini," jawab pria bertubuh kurus ini. Lebih baik lahan ditanami sayuran daripada dibiarkan terbengkalai, hal itu yang ada di benaknya saat pertama membajak tanah.

Berladang semacam Salim ini memang terkadang menguntungkan.Baik karena berhasil menyulap lahan tak terawat menjadi pemandangan yang lebih sedap dipandang mata, maupun bisa mendatangkan keuntungan bagi pengelolanya. Namun sesekali pernah merugi juga. Kerugian itu datang saat sayuran siap panen ternyata dijarah oleh orang lain. itulah sebabnya Salim dan para peladang lain enggan menanam jagung, cabai, tomat, dan sayuran lain yang mengundang keusilan untuk memetik tanpa izin di lahan yang terbuka itu.(tov/rom)

Berita Terkait