ITS News

Kamis, 11 Agustus 2022
15 Maret 2005, 12:03

ITS Bebaskan SPP Mahasiswa Asal Aceh

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

"Kami sudah memutuskan untuk membebaskan SPP yang harus dibayarkan pada Januari mendatang kepada mahasiswa asal Aceh. Jumlahnya mencapai 43 orang baik mereka yang menempuh jalur S1, S2 atau pun S3. Sedang bagi mahasiswa asal Sumatera Utara, yang memang daerahnya juga terkena bencana gempa dan gelombang tsunami akan kami data," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, ITS akan turun memberikan bantuan kepada korban gempa bumi dan gelombang tsunami di Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Ada tiga fase yang akan diberikan ITS berkait dengan musibah itu. Pertama, bantuan yang bersifat emergency, untuk kebutuhan obat-obatan, makanan dan pakaian serta evakuasi. "Pada fase emergency ini ITS tentu akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga sosial dan penyalur bantuan lainnya, ini karena ITS tidak punya keahlian di bidang itu. Tapi secara moral kami sudah menghimbau semua warga kampus untuk menyisihkan sebagian rezekinya buat saudara-saudara kita di Aceh dan Sumut. Kami juga sudah membuka rekening khusus untuk penyaluran bantuan itu," katanya.

Fase kedua, kata mantan Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS ini, kegiatan rehabilitasi baik yang menyangkut fisik maupun traumatik masyarakat, yang waktunya tidak cukup dalam hitungan satu atau dua bulan ke depan. "ITS yang memiliki kekayaan dari para ahli di berbagai bidang akan mengirimkan tim teknis setelah berkoordinasi dengan lembaga atau instansi terkait lainnya. Kami punya ahli listrik, jalan, bangunan dan juga telekomunikasi, mereka bisa didayagunakan untuk mempercepat proses pembangunan kembali kawasan yang telah terkena musibah itu," katanya.

Tentu, katanya menambahkan, proses ini akan berjalan tidak dalam waktu singkat, karena itu ITS juga akan tetap berkoordinasi dengan perguruan tinggi yang berada di sana. "ITS dengan lembaga terkait lainnya juga akan mencoba masuk untuk melakukan rehabilitasi dalam mengatasi traumatik yang diderita masyarakat," katanya.

Sedang fase ketiga, ITS memikirkan bagaimana warga Aceh yang berada di luar Aceh saat peristiwa tsunami itu terjadi dan kini selamat serta sedang menuntut ilmu, terutama di ITS, dapat terus melangsungkan masa studinya tanpa terhambat dengan peristiwa yang menimpa sanak-keluarga di tanah kelahirannya. "Salah satu wujud riil dari fase ketiga yang diberikan ITS ini adalah dengan membebaskan SPP pada semester genap atau yang wajib dibayarkan pada Januari nanti. Ini berlaku untuk semua mahasiswa di jenjang S1, S2, dan S3 asal Aceh," katanya.

Selain itu, pada fase ketiga ini ITS juga memberi kesempatan kepada mahasiswa di perguruan tinggi di Aceh seperti di Unsyiah, yang memang telah mengambil tugas akhir untuk bisa menyelesaikan tugas akhirnya di ITS. "Ini di ambil ITS karena kami tidak ingin mereka yang sudah hampir selesai terhambat hanya karena adanya bencana itu. Silakan menyelesaikan studi akhirnya di ITS, dan nanti setelah lulus, mereka bisa membangun daerahnya yang kini memang sedang membutuhkan tenaga dan pikiran mereka," katanya.

Bukan hanya itu, katanya menambahkan, jika dalam musibah itu ada beberapa dosen di perguruan tinggi di Aceh yang meninggal dan mata kuliah yang diajarkannya terbengkalai, sepanjang ITS memiliki tenaga yang punya disiplin sama, ITS akan ‘meminjamkannya’," katanya.

Himpun Rp 50 Juta
Sementara itu, aksi mahasiswa ITS yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) hingga kini telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp 50 juta lebih. Dikatakan Ketua BEM ITS, Rendra Sanjaya, penghimpunan dana terbesar didapat ketika para mahasiswa ITS Rabu pagi kemarin terjun ke perempatan-perempatan jalan. "Hanya dalam waktu sekitar dua jam kami berhasil menghimpun dana lebih dari Rp 23 juta. Tapi ini tidak kami lakukan lagi, mengingat selain akan mengganggu arus lalu lintas, kami khawatir mereka yang akan terjaring adalah orang yang sama pada hari sebelumnya," katanya.

Rendra memberikan batas waktu pengumpulan dana hingga 9 Januari mendatang. Tapi, katanya itu bukan berarti setelah itu kami tidak lagi menerima bantuan. "Kami akan terus menerima bantuan dan segera menyalurkannya, batas waktu 9 Januari merupakan tahap pertama yang segera harus kami salurkan," katanya. (Humas/bch)

Berita Terkait